1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

Mahasiswa FKG Universitas Jember Rintis Metode Tes HIV/AIDS Yang Lebih Mudah, Cepat Dan Murah

Tes ELISA dan Western Blot dilakukan di klinik atau rumah sakit tertentu dengan pengawasan tenaga kesehatan yang sudah terlatih. Hasil tes darah biasanya baru diketahui setelah 24 jam. Namun saat ini ada metode yang lebih mudah, cepat dan murah untuk mengetahui apakah seseorang menderita HIV/AIDS seperti yang sudah dirintis melalui kajian literatur oleh tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Jember.

Trio mahasiswa FKGUniversitas Jember, Ahmad Syaifuddin, Alex Willyandre dan Khoirul Anam yang kesemuanya mahasiswa angkatan 2010 membuat kajian literatur yang berjudul “Inovasi Microfluidics Chip Berbasis Nucleic Acid Testing Sebagai Detektor Antibodi HIV-1 Pada Gingival Crevicular Fluid”. Kajian ini kemudian berhasil menjadi juara pertama dalam ajang Literatur Review dalam rangka “Dentistry Scientific Meeting (DSM) VI 2012” yang digelar oleh FKG Universitas Indonesia 21 Juni lalu di Jakarta.

“Ide awalnya adalah dari diskusi kami mengenai data dan fakta bahwa tanda-tanda seseorang menderita HIV/AIDS bisa diketahui melalui kondisi rongga mulutnya. Penderita HIV/AIDS memiliki masalah dengan gusinya, dimana gusi tersebut membengkak dan merah  karena infeksi. Kemudian timbul ide bagaimana mencari alat yang mampu mendeteksi dengan pasti gejala HIV/AIDS tersebut dari kondisi rongga mulut,” ujar Ahmad Syaifuddin. Ide ini kemudian didiskusikan lebih lanjut dengan dua koleganya, Alex Willyandre dan Khoirul Anam yang sama-sama anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penalaran Dentin di FKG. Mereka bertiga  juga anggota UKM Penalaran Pelita di tingkat universitas.

Setelah melakukan studi literatur kurang lebih selama seminggu, mereka bertiga menemukan bahwa alat Microfluidics Chip temuan Prof. Samuel Sue dari Columbia University, Amerika Serikat dapat digunakan untuk melakukan tes HIV/AIDS. Sebelumnya Microfluidics Chip lebih sering digunakan untuk tes penyakit kelamin dan penyakit lainnya, namun belum untuk HIV/AIDS. Mereka bertiga kemudian mengeksplorasi alat ini untuk digunakan sebagai alat mendeteksi gejala HIV/AIDS melalui berbagai studi literatur pendukung lainnya. “Ternyata dengan menggunakan Microfluidics Chip, deteksi gejala HIV/AIDS bisa dilakukan dengan lebih mudah, murah dan cepat,” jelas Alex yang mahasiswa FKG asal Probolinggo.

Caranya pun tidak merepotkan, hanya dengan mengambil cairan gusi pasien tersebut dan menempelkannya pada Microfluidics Chip. “Keunggulannya dengan memakai Microfluidics Chip, pengambilan sampel lebih mudah karena tinggal mengambil cairan gusi dan menempatkan pada Microfluidics Chip dengan alat yang sudah ada, beda dengan metode ELISA dan Westren Blot yang harus mengambil darah pasien. Jadi pengambilan sampel ini bisa dilakukan dimana saja, tidak harus di klinik atau rumah sakit,” ujar Ahmad Syaifuddin menambahkan.

Jika  Microfluidics Chip berubah warna menjadi biru setelah ditetesi cairan gusi, maka dapat dipastikan si pasien positif HIV/AIDS. Hasil tes ini pun dapat diketahui dengan cepat, cukup dalam waktu kurang dari lima menit. Bandingkan dengan metode ELISA atau Western Blot yang hasilnya paling cepat baru diketahui dalam waktu 24 jam. Metode tes HIV/AIDS dengan  Microfluidics Chip juga lebih murah karena satu buah  Microfluidics Chip harganya satu dollar AS atau sekitar sepuluh ribu rupiah saja.

“Jadi dengan menggunakan Microfluidics Chip, petugas kesehatan seperti dokter dan perawat dapat dengan mudah melakukan tes, bahkan pasien pun bisa melaksanakan di rumah. Penggunaannya mirip-mirip alat tes kehamilan,” urai Ahmad Syaifuddin lagi. Dengan kemudahan ini, mereka bertiga mengharapkan deteksi penderita HIV/AIDS dapat dilakukan sedini mungkin sehingga pengobatannya pun dapat lebih cepat diberikan.

Kajian literatur arek-arek Kampus Tegalboto ini kemudian mendapatkan apresiasi tertinggi dari para dewan juri dalam ajang Literatur Review dalam rangka “Dentistry Scientific Meeting (DSM) VI 2012” yang digelar oleh FKG Universitas Indonesia. Mereka menjadi yang terbaik mengalahkan empat finalis lainnya yang berasal dari FKG Universitas Gadjah Mada (tiga kelompok) dan wakil tuan rumah, FKG Universitas Indonesia. Piala, sertifikat dan uang pembinaan pun dibawa pulang ke Kampus Tegalboto.

Tentu saja kajian literatur ini perlu ditindaklanjuti dengan penelitian dalam skala laboratorium sehingga makin sempurna. Mereka bertiga sebenarnya ingin meneruskan penelitian mereka, namun  terkendala mencari pasien atau calon pasien mengingat masalah HIV/AIDS masih menjadi hal yang sensitif di masyarakat Indonesia. “Obsesi kami nanti di tiap rumah sakit, klinik, puskesmas dan praktik dokter serta dokter gigi memiliki Microfluidics Chips sehingga deteksi penderita HIV/AIDS semakin mudah sehingga pengobatannya dapat dilakukan sedini mungkin, mengingat prevalensinya saat ini makin tinggi,” tutur Khoirul Anam yang asli Makassar ini. (iim).

Unit Kerja

Follow us

Tamu Online

Kami memiliki 250 tamu dan tidak ada anggota online