1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

Hadirkan Pakar Dari Rusia Dan Spanyol, Bahas Teknologi Halal

Prof. Dr. Josep Gibert (Kanan) dan Prof. Dr. Bambang Kuswandi.

Halal dan haram menjadi kepedulian bagi umat Islam dimana pun. Sayangnya selama ini masalah halal dan haram lebih banyak dilihat dari perspektif syariah saja, padahal perspektif teknologi dan sains memegang peranan tak kalah penting dalam issue halal dan haram saat ini. Masalah halal haram tidak hanya berkutat di bidang makanan, namun juga di banyak segi kehidupan seperti produk bidang obat-obatan dan kosmetika. Keinginan memberikan kontribusi untuk teknologi yang berkaitan dengan halal ini mendorong Fakultas Farmasi Universitas Jember menggelar konferensi internasional bertajuk “Halalstech+ 2012, International Conference on Halal Science & Technology (Current Issues On Food, Pharmaceitical & Health Products)”.

“Tujuan konferensi ini salah satunya mendorong riset-riset dalam bidang teknologi halal selain bertukar pengalaman mengenai teknologi di bidang halal antara peneliti, praktisi dan pemerhati teknologi yang berkaitan dengan masalah halal,” jelas Prof. Dr. Bambang Kuswandi Dekan Fakultas Farmasi. Konferensi kali ini dalah hasil kerjasama antara Fakultas Farmasi Universitas Jember, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan Universiti Sains Islam Malaysia (USIM). Para pembiacara utama yang hadir berasal dari Spanyol Rusia, Malaysia dan Indonesia. Konferensi dibuka secara resmi oleh Rektor, Drs. Moch. Hasan, MSc PhD.

Selama tiga hari konferensi di Hotel Sanur Paradise Bali (4-6/7), para peserta membicarakan teknologi halal di bidang makanan, obat dan bidang-bidang lain yang terkait dengan halal. Prof. Dr.  Bambang Kuswandi kemudian mencontohkan jika dalam kehidupan sehari-hari masih ada makanan, obat dan kosmetika yang mengandung bahan non halal. Oleh karena itu perlu dicari teknologi untuk mendeteksi kandungan non halal dan alternatif penggantinya.

Pendapat Prof. Dr. Bambang Kuswandi ini didukung oleh koleganya, Prof. Dr. Muhammad Muda yang juga Naib Conselor USIM. Menurutnya, membicarakan kehalalan sebuah produk berarti membahas dari hulu sampai hilir. “Produk halal berarti bahannya harus halal, produksinya harus halal, pengirimannya harus secara halal bahkan penyimpanannya pun haru sesuai syariah,”  ujarnya.

Sayangnya teknologi halal belum maksimal dikembangkan oleh negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas Islam, padahal prospeknya sangat cerah. Prof. Dr. Muhammad Muda yang membawakan materi berjudul “Halal Industry In Global Economy : A Perspective” kemudian memberikan contoh bidang-bidang yang membutuhkan sentuhan teknologi halal, antara lain makanan, farmasi, kosmetik, tekstil dan lainnya.

Di lain sisi, harus diakui negara-negara non muslim justru yang sudah mencapai banyak kemajuan di bidang teknologi halal. Salah satunya dipaparkan oleh Dr. Yuri Lebedin, general manager Xema, Co Ltd Rusia. Perusahaannya telah memproduksi alat untuk mendeteksi kandungan babi dalam makanan dengan alat Pork Detection Kit. “Alat ini penggunaannya sangat mudah mirip alat tes kehamilan, namun memiliki tingkat keakurasian tingi. Tidak saja dapat digunakan pada media sampel daging mentah atau masakan, bahkan dapat mendeteksi kandungan babi pada alat masak, pisau dan minuman,” jelas Dr. Yuri Lebedin yang memaparkan materi berjudul “The Immunoassay : Tools for Detection of Pork and Its Derivatives in Pharmaceutical, Food and Cosmetic Products”.

Pembicara lain yang tampil adalah Prof. Dr. Josep M. Gibert Chief Executive Officer Konik Group, Madrid Spanyol yang menjelaskan mengenai “Multidimensional HPL+ GC-MS : an Assesing Halal Pharmaceutical & Food Products”. Prof. Dr. Aminah Abdullah (UKM) dengan karya ilmiah berjudul “Halal Food Issues in Malaysia : An Overview”. Sementara pembicara dari Indonesia yang tampil adalah Prof. Dr. M. Yuwono (Unair) dengan paparan berjudul “Assesing Halal Products With Chromatography Method” dan Drs. Hardjana Hardjojoewono, MSc (LPPOM MUI Jatim) yang membahas “HAS 23000 requirement of Halal Certification” serta pembicara lainnya.

Fakultas Farmasi Universitas Jember sendiri juga sudah mengembangkan teknologi halal, antara lain penelitian biosensor untuk mendeteksi kandungan alkohol pada minuman dan pada obat-obatan cair. “Ke depan kami mengharapkan Fakultas Farmasi dapat menjadi institusi yang memiliki kompetensi  memberikan sertifikasi halal, sehingga para produsen makanan, obat dan kosmetik di Jember dan sekitarnya tidak perlu jauh-jauh mencari sertifikasi halal,” ungkap Prof. Dr. Bambang Kuswandi. (iim)                     

Agenda Kegiatan

Tamu Online

Kami memiliki 173 tamu dan tidak ada anggota online

e - payment