1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

Profesor Tanpa Doktor

Dalam menjalankan tugas sebagai pengajar Bahasa Indonesia di Thailand, ternyata banyak pengalaman menarik yang dijumpai oleh Drs. Ahmad Supardi, M.Pd. Salah satunya dituangkan dalam tulisannya kali ini yang merupakan ekspresi pribadinya. 

 

Menjadi seorang profesor atau guru besar merupakan dambaan bagi setiap insan yang mempunyai profesi sebagai seorang dosen. Menyandang gelar profesor artinya seorang dosen dianggap sudah mumpuni ilmunya sehingga kesempatan mengembangkan ilmu pun lebih terbuka lebar di berbagai institusi pendidikan dan penelitian. Belum lagi berbagai fasilitas lain yang akan didapat oleh seorang guru besar, tak heran banyak dosen yang bercita-cita mendapatkan gelar “Prof” di depan namanya.

Namun tentu saja untuk mendapatkan kedudukan sebagai seorang profesor tidak mudah. Tentu saja ada banyak syarat yang harus dipenuhi oleh para dosen, yaitu berupa jumlah angka kredit dari kegiatan Tri Dharma perguruan tinggi (mengajar, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat). Selain pencapaian jumlah angka kredit, ada persayaratan berikutnya yaitu para dosen  harus mempunyai karya tulis ilmiah yang dipublikasikan baik di jurnal nasional terakreditasi dan tidak mapun di jurnal internasional. Namun, persyaratan tersebut masih belum cukup, jika para dosen tersebut belum memiliki gelar doktor.

Memperhatikan persyaratan untuk menjadi seorang profesor di atas, tampaknya berat untuk mendapatkannya. Tugas Tri Dharma perguruan tinggi mudah diperolehnya karena ini sudah menjadi kebiasaan bagi seorang dosen. Namun, untuk kebiasaan menuangkan ide-ide melalui tulisan, masih sedikit jumlah dosen yang melakukannya. Apalagi, menulis untuk jurnal internasional yang harus membutuhkan kemampuan bahasa Inggris.

Di samping kesulitan menulis, keharusan mendapatkan gelar doktor juga merupakan tantangan berikuitnya. Bagi dosen yang mampu tidak masalah. Mungkin, ada yang nyletuk “kan ada beasiswa”. Memang banyak beasiswa yang ditawarkan, tapi tidak mudah untuk mendapakannya karena banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Lebih-lebih kalau persyaratannya berkaitan dengan usia. Ya syukur-syukur kalau ada bantuan dari perguruan tinggi di mana dosen itu bertugas.

Jika persyaratan-persyaratan tersebut tidak bisa dipenuhi oleh seorang dosen, tentu saja gelar guru besar akan sulit didapatkan. Konsekuensinya, tidak jadilah dia dipanggil dengan sebutan “Profesor” atau “Prof”. Namun ternyata ada banyak cara untuk mendapatkan gelar profesor, seperti pengalaman saya termasuk selama menjadi pengajar Bahasa Indonesia (BIPA) di Thailand.

Di Indonesia, misalnya, termasuk di Universitas Jember tempat penulis bertugas, adalah sulit untuk mendapatkan panggilan seperti itu jika seorang dosen itu belum secara resmi mendapatkan gelar Profesor dengan persyaratan-persyaratan yang begitu ketat seperti tersebut di atas. Oleh sebab itu, kalau keinginan atau dambaannya mau dipanggil “Profesor” atau “Prof” saja, pergilah ke luar negeri untuk mengikuti forum-forum akademik internasional. Misalnya, presentasi makalah pada seminar atau konferensi internasional dan semacamnya.

Pada forum-forum internasional itulah, panggilan “Professor” seringkali saya dapatkan baik dari para peserta maupun dari panitia. Pada suatu ketika, pernah seorang Master of Ceremony (MC) memperkenalkan masing-masing pembicara (speaker/presenter). Pada saat memperkenalkan saya, sang MC mengatakan, “The next speaker is Professor Supardi from Jember University”.

Pada forum-forum seperti itu, seringkali saya mengingatkan kepada mereka bahwa saya bukan seorang “Profesor”, saya hanya seorang dosen (teacher/lecturer) dari Unversitas Jember. Apa jawab mereka? “Oh, no. Mr. Supardi, you are professor here”. Nampaknya mereka tidak percaya dengan jawaban saya. Itulah fakta atau kenyataan yang saya alami.

Selanjutnya, dalam program BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) di Thailand, kenyataan di atas terulang lagi. Kebetulan saya melaksanakan tugas mengajar BIPA di Ramkhamhaeng University.  Tugas saya mengajar untuk lima kelas paralel per minggu, yang masing-masing beralokasi waktu 2 jam per kelas per minggu dan beban tugas 50 jam untuk 2 bulan. Pada saat bertugas inilah saya bertemu dengan staf pengajar, staf administrasi, dan mahasiswa peserta program BIPA Thailand. Pada saat inilah seringkali mereka itu memanggil dan bertanya, “Professor, welcome to Bangkok”, “Professor, where are you from?”, “How long will you be here, Professor?” dan lain sebagainya.

Di kelas pun, para mahasiswa juga seringkali memanggil saya “Professor”. Pernah pada suatu hari, setelah satu minggu pembelajaran, nampaknya mereka ingin mempraktekkan mengucapkan salam, yaitu pokok bahasan pada pertemuan pertama. Mereka menyapa saya dengan mengucapkan “Halo, Profesor, Selamat Pagi” dan “Apa kabar, Profesor”, tentu saja dengan aksen dan intonasi Thailand yang masih melekat kental. Maklum pembelajaran baru satu minggu.

Ternyata menjadi “Profesor” tidak selalu berarti harus mendapatkan gelar doktor terlebih dahulu. Oleh karena itu, menurut pendapat saya apabila kita ingin mendapatkan panggilan “Professor” tanpa melalui proses persyaratan untuk menjadi seorang profesor, pergilah ke luar negeri untuk mengikuti forum-forum akademik internasional.

Bebahagialah kita semua, sebagai dosen Universitas Jember, sejak tahun 2012 ini Universitas Jember sudah mulai memberikan bantuan kepada dosen yang mau mempresentasikan makalahnya di seminar atau konferensi internasional walaupun tidak penuh (not fully funded). Tentu saja kita harus bisa menunjukkan penerimaan proposal sebagai pembicara (presenter) dan surat undangan pada acara tersebut. Hal ini benar-benar sudah saya rasakan pada saat saya presentasi di International Conference on Law, Language and Discourse pada 20-23 April 2012 yang lalu di Guang Zhou, Cina.

Saya lantas jadi teringat pidato Rektor, Drs. Moch. Hasan, MSc., PhD pada suatu kesempatan. Dalam pidatonya Pak Hasan menyinggung mengenai bekal 5 As dalam bekerja, yakni kerja ikhlas, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja berkualitas. Saya pikir bekal 5 As ini bisa menjadi pendorong bagi kita, terutama para dosen untuk meraih gelar profesor. Baik untuk “Profesor” yang beneran maupun agar kita bisa pergi ke luar negeri untuk presentasi makalah pada forum-forum akademik internasional sehingga bisa memperoleh panggilan “Profesor” tanpa gelar doktor. [ ]

Unit Kerja

Follow us

Tamu Online

Kami memiliki 135 tamu dan tidak ada anggota online