1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

Paduan Suara Mahasiswa Universitas Jember Raih Medali Emas dan The Best Performance Di 5th Grand Prix Pattaya 2012 di Thailand

(Bagian I) There's a will, there's a way

Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Jember menorehkan prestasi membanggakan. Lantunan suara mahasiswa dan mahasiswi Kampus Tegalboto menjadi yang terbaik dalam 5th Grand Prix Pattaya 2012 (18-22/7). Berikut kisah kerja keras mereka sampai membawa gelar seperti yang dilaporkan oleh Staf Bagian Humas dan Protokol Rokhmad Hidayanto yang juga bertugas menjadi conductor PSM Universitas Jember dalam ajang tersebut.

Saya masih teringat ketika dalam suatu latihan rutin Gilang Adi Permana (mahasiswa FKIP), Ketua Umum Paduan Mahasiswa Universitas Jember (PSM Unej) mengatakan keinginan PSM Unej untuk mengikuti 5th Grand Prix Pattaya 2012 di Thailand. Pengurus PSM akan menggelar audisi bagi siapa saja mahasiswa Universitas Jember yang berminat untuk dijadikan Tim PSM Unej yang akan berlaga di kompetisi tingkat dunia itu. Saya yang hingga saat ini dipercaya untuk melatih dan menjadi conductor  PSM Unej dengan berbagai macam pikiran, antara bingung dan harus siap untuk menerima tantangan, tidak bisa mengatakan iya atau tidak.

Saya kemudian membicarakannya dengan Drs. A Lilik Slamet R, dosen Fakultas Sastra salah satu Pendiri PSM Unej yang saat ini menjadi Pembina. Dengan bijak Mas Lilik, pangilan akrab saya kepada beliau, mengatakan jangan dihalangi keinginan mereka, kita lihat  seberapa besar keinginan dan usahanya, kita ikuti saja. Oke! kita gelar audisi.

Dengan sedikit kriteria yang agak tinggi kami menggelar audisi. Dibantu teman-teman yang selama ini terlibat dalam urusan teknik musikal di PSM Unej, seperti Mas Joko Lesmono dan Mas Arif Rijadi dari FKIP, Mas Aang dan Mas Helmi alumni paduan suara yang sampai sekarang masih aktif di PSM Unej, kami menggelar audisi. Puluhan mahasiswa yang selama ini aktif di PSM Universitas ataupun Fakultas menunjukkan kebolehannya dalam urusan “tetek mbengek” bernyanyi.  Akhirnya terpilihlah 28 orang penyanyi. Dan disepakati mulai kapan latihan pertama digelar.

Tujuh bulan lamanya PSM Unej mempersiapkan diri untuk mengikuti 5th Grand Prix Pattaya 2012 di Thailand. Kompetisi ini terasa istimewa bagi seluruh anggota PSM Unej pasalnya selama berdiri 24 Nopember 1980 baru kali ini mempunyai kesempatan untuk bertanding keluar negeri.

Tentunya kesempatan ini tidak akan disia-siakan begitu saja. Pengurus PSM Unej membentuk panitia kecil yang mempunyai tugas masing-masing. Mereka setiap hari   berkumpul di gedung Soetardjo yang selama ini menjadi “rumah” untuk berkreasi, menuangkan segala pikiran dan uneg-uneg di hati, dan tempat untuk menyamakan langkah-langkah yang harus ditempuh.

Dalam koordinasi itu berbagai pikiran dituangkan. Seksi dana dan usaha memberikan pandangannya bagaimana cara PSM Unej untuk mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya. Tentu saja mereka selalu berkoordinasi dengan dengan pihak rektorat dalam hal ini Pembantu Rektor III beserta staf yang membawahi kegiatan kemahasiswaan dan Pembantu Rektor II beserta staf sebagai tempat “wadul” dan konsultasi masalah cara pendanaan yang memungkinkan yang bisa dilakukan anak-anak PSM Unej. Dan tentu saja dengan drs. Moh. Hasan M.Sc Ph.D Rektor Universitas Jember yang mendukung penuh keberangkatan kami.

Akhirnya munculah ide untuk membuat konser “Pra Competition” yang jamak dilakukan oleh tim paduan suara yang akan mengikuti kompetisi untuk mendapatkan tambahan dana. Dalam acara konser tersebut terkumpulah sejumlah dana dari para donatur termasuk dari Pemkab Jember dengan jumlah yang membuat kami semua merasa lebih mantab untuk menatap kompetisi ini.

Selain menggelar konser anak-anak juga mulai rajin bangun pagi-pagi setiap hari minggu. Mereka membuat salad buah dan sandwich yang dijual di pasar dadakan yang banyak dikunjungi warga Jember setiap hari  minggu di alun-alun Jember.

Ketika mereka merelakan malam minggunya untuk latihan di gedung Sutardjo, kelelahan yang tidak bisa mereka sembunyikan dari mata yang mulai terlihat sayu, tetapi semangat berjuang yang tinggi sehingga membuat saya sulit untuk menghentikan acara latihan.  Ketika saya mencoba untuk menanyakan apakah dengan kondisi fisik yang terlihat lelah malam itu mereka akan tetap bangun jam 3 dini hari untuk mempersiapkan saladnya. Dengan mantab mereka menjawab “Mas kami juga harus belajar berwirausaha, kami harus bisa mengelola kas yang kami jadikan modal supaya terus bertambah dan bisa sedikit-sedikit buat tambahan berangkat ke Thailand”. Nampaknya memang saya yang harus mengalah dengan meniadakan jadwal latihan di hari minggu pagi sampai siang dengan mengganti di minggu malamnya. 

Usaha yang dilakukan anak-anak ternyata tidak sia-sia. Sampai suatu saat anak-anak mendapat berita gembira. Berita tersebut datang dari Rektorat. Isinya? Kami semua diminta untuk lebih fokus menghadapi lomba secara teknis. Urusan dana akan difikirkan rektorat.   

Kepastian berangkat lomba sudah ada, satu masalah terlewati. Tidak kalah hebohnya adalah seksi latihan dan teknis lomba. Tentunya saya tidak bisa memutuskan lagu apa yang akan kami bawakan walaupun kami sudah tahu bahwa nantinya kami akan turun di kategori F1 Folklore a capella, yaitu lagu tradisional yang harus dibawakan tanpa iringan.

Tidak mudah untuk memilih lagu, kami harus yakin benar bahwa lagu yang akan dibawakan harus jelas legalisasinya karena sangat berkaitan dengan Hak atas Kekayaan Intelektual. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan kami memilih lagu Erang-Erang Subuh yang diaransemen oleh Amril Huda dan Lagu Podho Nginang aransemen Yanu Kristiono. Kedua lagu tersebut adalah lagu etnik banyuwangi yang notabene Unej memiliki banyak ahli budaya yang meneliti kebudayaan Banyuwangi, dan Osing pada khususnya, sehingga kami akan dapat banyak masukan tentang budaya Osing.  Dan satu lagu etnik Papua yang berjudul Diru-diru Nina yang diaransemen oleh Gabriel Mado/Paul Widiawan.

Turun di kategori Folklore a capella, saya tahu konsekwensinya, menyanyi dengan tidak ada alat musik yang menjaga ketepatan nada. Notasi harus tepat tidak boleh bergeser sedikitpun dengan choral sound yang sesuai dengan daerah asal lagu. Pekerjaan berat didepan mata, tetapi melihat kualitas tim yang saya rasa salah satu yang terbaik dari sekian generasi yang saya ikuti, saya menjadi percaya diri. Didukung di kiri dan kanan saya ada tim pelatih yang selalu memberi masukan positif. Apalagi Mas lilik saat ini juga sedang menempuh pendidikan master seni pertunjukan yang akan memberi masukan secara akademis. 

Metode latihanpun sedikit ada perubahan. Kalau selama ini lebih fokus di notasi dan intepretasi lagu, dua bulan terakhir ditambahi dengan sesi latihan fisik. Lapangan Upacara Universitas Jember menjadi tempat yang tepat untuk berlatih fisik. Mengelilingi minimal dua kali lapangan bola dengan berlari awalnya terasa berat bagi mereka yang memang latar belakangnya bukan olahragawan. Ini pun masih ditambah dengan beberapa excercise untuk menguatkan otot diapraghma sebagai modal dasar penyanyi. Hasilnya? Titik jenuh yang biasanya dihadapi sebuah tim paduan suara bisa terkikis habis. Fisik penyanyi sangat mendukung untuk melakukan koreografi yang rumit tanpa mengurangi kualitas choral-nya

Koreografi ini yang dibuat oleh mereka sendiri. Tetapi polesan akhir dibantu oleh Cak Partu seniman tradisional banyuwangi yang dikenal sebagai penyiar di salah satu radio di Jember dan Mbak Enis penari asal Ambulu yang beberapa waktu yang lalu juga pernah tampil di Thailand. Beliau berdua juga banyak memberi sentuhan artistik dibeberapa bagian. Mulai dari pembenahan gerakan dasar tari, logat Osing yang kental, sampai sentuhan etnik pada kostum yang dikenakan anak-anak sampai urusan make up artist.

Masalah kostum juga ternyata memerlukan energi yang cukup untuk memikirkannya. Bisa dibayangkan kami harus mendesain baju etnik banyuwangi dengan berbagai aksesorisnya tetapi yang memungkinkan bagi penyanyi untuk memasang sendiri. Tim ini tidak mungkin membawa orang khusus yang bertugas untuk memasangkan kostum dan make up karena kami memang berusaha untuk efisiensi. Nah, yang menjadi problem adalah pada lagu Diru-diru Nina dari Papua. Kami berfikir keras supaya kami bisa menyanyikan lagu Papua tidak dengan kostum Banyuwangi. Akhirnya jerih payah anak-anak membuahkan hasil. Berkat konsultasi kesana-kemari mereka bisa membuat desain kostum Banyuwangi dan dengan sekali tarik maka mereka sudah mengenakan kostum Papua. Kuncinya? Kostum Papua dikenakan dulu baru ditutup dengan kostum Banyuwangi. Inilah yang membuat Juri terpana dengan kostum yang kami kenakan. (bersambung ke bagian II)