1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

Artikel

Dr. M. Fathorrazi, SE., MSi. Mantan Penjaja Apem Yang Jadi Dekan

 

Jember, 19 November 2012

Dr. M. Fathorrazi, SE., MSi (kiri) sedang diwanwancarai wartawan RRI Jember.

Dari sejumlah Dekan yang dilantik oleh Rektor Universitas Jember pada tanggal 23 Oktober 2012 lalu, salah satunya adalah Dr. M. Fathorrazi, SE., MSi yang dilantik sebagai Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Jember. Dr. M. Fathorrazy, SE., MSi yang sebelumnya menjabat sebagai Pembantu Dekan III ini menggantikan Prof. Dr. M. Saleh, MSi yang kini menjabat sebagai Pembantu Rektor III Universitas Jember.

Namun siapa sangka jika dosen yang humoris dan dikenal dekat dengan mahasiswa ini dulunya pernah berjualan apem. “Saya ini kumpul kakek selama 12 tahun. Ketika itu beliau penjual kue apem sehingga terkenal sebagai Pak Rus Apem,” ujar pria kelahiran Bondowoso, 14 Juni 1963 ini. Karena kesehariannya berhubungan dengan jual menjual apem, maka Rozi kecil waktu itu sempat menjajakan apem ke warung-warung dan pasar sore di Bondowoso.  “Jadi, saya ini adalah contoh bahwa mantan penjaja apem juga bisa jadi dekan,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Ditanya tentang program yang akan dilakukan selama kepemimpinannya, suami dari Halimah, S.Pd. ini mengibaratkan apa yang akan dilakukannya akan mirip dengan usaha apem. “Kalau saya sebelumnya menproduksi apem untuk masyarakat, dan keluarga memperoleh manfaat berupa peningkatan pendapatan, maka ke depan saya ingin memproduksi apem-apem yang lain untuk sivitas akademika dan masyarakat juga memperoleh manfaatnya”. Menurutnya sebuah perguruan tinggi, disamping harus memperoleh akreditasi baik dari pemerintah dalam hal ini Ditjen Dikti Kemdikbud sebagai institusi resmi, juga seharusnya mendapatkan akreditasi dari masyarakat.

Penerima penghargaan Bintang Bhakti Koperasi pada tahun 2009 dari Menteri Koperasi dan UMKM RI juga berpendapat bahwa porsi kegiatan pengabdian dari sivitas akademika harus ditingkatkan. Dengan kata lain, perguruan tinggi harus bisa menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat sehingga pengembangan keilmuan tidak hanya berhenti untuk tujuan pengetahuan semata-mata. “Kalimat indahnya adalah kita belajar bukan hanya untuk pengetahuan tetapi untuk kehidupan”. Menurutnya, tidak ada gunanya pengetahuan meningkat tetapi masyarakat tidak memperoleh apa-apa.

Logikanya, untuk menciptakan kemanfaatan yang meningkat maka sebelumnya institusi harus berkembang lebih baik. Jadi, manfaat yang diterima masyarakat meningkat sebagai muara dari adanya perbaikan institusi. “Kami punya sumber daya yang bisa dikembangkan, ibaratnya saya hanya mengumpulkan lidi yang berserakan untuk disusun menjadi suatu kekuatan seperti filosofi sapu lidi. Oleh karena itu tanpa dukungan teman-teman, saya tidak ada artinya,” tegas Dekan yang ingin Fakultas Ekonomi segera ‘go international’, semoga. (rozi/iim).

Unit Kerja

Follow us

Tamu Online

Kami memiliki 141 tamu dan tidak ada anggota online