Universitas Jember Wujudkan Lamongan Sebagai Kabupaten Bioteknologi Pertama Di Indonesia

mou_lamongan_unej-630x330px

 

Jember, 25 Januari 2017

Lamongan_unejUniversitas Jember all out mewujudkan Lamongan sebagai kabupaten bioteknologi pertama di Indonesia. Komitmen ini disampaikan langsung oleh Moh. Hasan, Rektor Universitas Jember kepada Bupati Lamongan, H.M. Fadeli, pada saat panen raya jagung di Kawasan Jagung Modern, Taman Teknologi Pertanian, Desa Banyubang, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan (24/1).  Jalan mewujudkan Lamongan sebagai kabupaten bioteknologi pertama di Indonesia ini dimulai melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), antara Universitas Jember dengan kabupaten Lamongan, seusai kegiatan panen raya jagung.

Kesungguhan Universitas Jember untuk membantu Lamongan ditampilkan dengan banyaknya pakar bioteknologi dan pertanian yang ikut menghadiri kegiatan panen raya jagung. Diantaranya profesor Bambang Sugiharto dan profesor Tri Agus Siswoyo dari CDAST, serta profesor Sri Hartatik dari Fakultas Pertanian, beserta dosen lainnya. Turut serta juga ketua Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat beserta sekertaris, dan para mahasiswa S2 Program Studi Magister Bioteknologi.

“Universitas Jember telah ditunjuk oleh Kemenristekdikti sebagai pusat unggulan Bioteknologi di Indonesia, karena para penelitinya sudah terbukti mampu menghasilkan berbagai produk inovasi di bidang bioteknologi pangan dan kesehatan. Oleh karena itu kami menyambut gembira ajakan kerjasama dari Kabupaten Lamongan, pasalnya target menjadikan Lamongan sebagai kabupaten bioteknologi sejalan dengan keunggulan kampus Tegalboto sebagai pusat keunggulan bioteknologi,” jelas Moh. Hasan.

Sementara itu, dalam sambutannya, Bupati Lamongan, H.M. Fadeli menjelaskan mengapa kabupaten yang dipimpinnya memiliki keinginan sebagai kabupaten bioteknologi di Indonesia. Menurutnya, Lamongan sudah menjadi salah satu penghasil terbesar jagung di Indonesia, namun produksi per hektarnya masih dirasa kurang. “Saat ini rata-rata jagung yang dihasilkan baru mencapai enam ton per hektar, padahal targetnya adalah sepuluh ton per hektar. Dan untuk mewujudkan target tadi, maka jawabannya adalah dengan bioteknologi. Oleh karena itu Lamongan menggandeng Universitas Jember yang memiliki keunggulan di bidang bioteknologi,” kata bupati yang menyiapkan 10 ribu hektar lahan untuk ditanami jagung ini.

Kesungguhan Lamongan menjadi kabupaten bioteknologi disokong banyak pihak, salah satunya dari Nandar Sunandar, Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI yang turut hadir. Menurutnya, pada tahun 2017 Kementerian Pertanian sudah menargetkan Indonesia bakal berswasembada jagung, oleh karena itu langkah Lamongan mengembangkan jagung dengan bioteknologi patut didukung karena sudah selaras dengan program pemerintah.

Dukungan juga datang dari Erna Maria Lokollo, peneliti pada Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Kementerian Pertanian RI. “Dari berbagai penelitian, terbukti penggunaan bioteknologi dalam penanaman jagung mampu menekan ongkos produksi hingga lima puluh persen. Jika ongkos produksi turun, maka petani bakal mendapatkan keuntungan yang lebih besar sehingga makin sejahtera,” tutur peneliti yang juga anggota staf ahli Dewan Pertimbangan Presiden RI. Bahkan dirinya berjanji akan melaporkan perkembangan di Lamongan kepada presiden secara langsung.

Dalam kesempatan yang sama, profesor Bambang Sugiharto dan para peneliti dari CDAST Universitas Jember menawarkan beberapa aplikasi bioteknologi untuk pengembangan jagung di Lamongan. Diantaranya jagung yang aman dikonsumsi walau terpapar pestisida. “Selama ini jika ingin membasmi hama atau tanaman penggangu di lahan jagung, maka petani menggunakan pestisida, namun timbul kekhawatiran tanaman jagung yang disemprot bakal terkontaminasi pestisida sehingga tidak aman dikonsumsi. Nah dengan bioteknologi, kita bisa menciptakan jagung yang tetap aman dikonsumsi walau pernah terpapar pestisida,” kata penemu tebu tahan kering ini.

Kerjasama antara Kabupaten Lamongan dengan Universitas Jember ternyata disambut gembira oleh kalangan petani jagung Lamongan, seperti yang disampaikan H. Sholehuddin, yang juga Ketua Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI). Menurut H. Sholehuddin, sebenarnya petani jagung di Lamongan sudah dijanjikan bakal mendapatkan bantuan benih jagung hasil produk bioteknologi semenjak tahun 2013 lalu, namun sampai saat ini belum terlaksana. Oleh karena itu, pria yang juga Kepala Desa Banyubang ini berharap kerjasama antara Kabupaten Lamongan dengan Universitas Jember nantinya mampu meningkatkan hasil panen jagung di Lamongan. “Universitas Jember siap membantu para petani jagung Lamongan dengan kemampuan bioteknologi yang dimiliki, bahkan kami terbuka untuk kerjasama dengan daerah-daerah lain yang kebetulan memiliki basis pertanian dan perkebunan. Pasalnya Universitas Jember berkomitmen turut mensejahterakan Indonesia melalui hasil-hasil penelitian dan inovasinya,” pungkas Moh. Hasan menjawab pertanyaan petani. (iim)

Leave us a Comment