Universitas Jember Bantu Taman Nasional Meru Betiri  Merehabilitasi Hutan Wonoasri

Buhari_MIPA_UNEJ-630x330px

 

Jember, 8 Maret 2017

Universitas Jember bakal menjalankan program rehabilitasi hutan di resort Wonoasri dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Rehabilitasi ini dijalankan dengan cara menanam 82 ribu bibit tanaman ekonomi non kayu di lahan seluas 255 hektar. Kepastian pelaksanaan program ini disampaikan oleh Wachju Subhan, anggota tim Program Mitigasi Berbasis Lahan Universitas Jember di Kampus Tegalboto (8/3). Selain melakukan penanaman tanaman ekonomi non kayu, ada lima program lain yang akan dilakukan, antara lain peningkatan kesuburan dan daya sangga tanah, penilaian ekologi kawasan rehabilitasi, pembuatan hutan kolong dan pekarangan, peningkatan kerjasama antara Universitas Jember dengan TNMB, serta pemberdayaan masyarakat sekitar TNMB.

“Untuk melaksanakan program ini, Universitas Jember didukung dana sebesar 2,39 milyar rupiah dari Indonesia Climate Change Trust, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bappenas, serta USAID,” ujar Wachju, Wakil Rektor II Universitas Jember yang juga dosen di FKIP Pendidikan Biologi. Wachju menambahkan, kepercayaan yang diberikan kepada para peneliti kampus Tegalboto ini diperoleh melalui perjuangan panjang. Dalam proses seleksi yang dilakukan dalam empat tahap, dari 169 proposal yang diajukan, akhirnya terpilih 12 proposal yang akan mendapatkan dana, termasuk yang diajukan oleh Universitas Jember. Adapun judul proposal yang diajukan oleh Universitas Jember adalah Pengelolaan Kawasan Rehabilitasi Taman Nasional Meru Betiri Melalui Pengembangan Desain Demonstrasi Plot Dengan Prioritas Jenis Tanaman Yang memiliki Fungsi Penutupan Lahan Sepanjang Tahun. “Rencananya Program Mitigasi Berbasis Lahan ini akan di-launching paling lambat bulan April nanti,” imbuh Wachju lagi.

Sementara itu ditemui di kampus FMIPA, Hari Sulistyowati, anggota tim lainnya menjelaskan, pemilihan resort Wonoasri didasari hasil penelitian sebelumnya yang menemukan fakta, kerapatan tanaman di Wonoasri hanya berkisar 234 batang per hektar, padahal idealnya berkisar 400 sampai 700 batang per hektar. “Oleh karena itu, kami merencanakan menanam tanaman ekonomi non kayu seperti kemiri, kedawung, alpukat dan lainnya. Tujuannya agar buahnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, tanpa harus menebang pohonnya,” ujar pakar valuasi ekologi lahan yang menjadi ketua program penilaian ekologi kawasan rehabilitasi ini.

Dosen yang menyelesaikan studi lanjut di Canada dan Filipina ini kemudian menjelaskan, usaha rehabilitasi lahan di resort Wonoasri TNMB tidak saja meningkatkan kesuburan dan daya sangga tanah saja, namun yang lebih penting diharapkan berdampak langsung pada usaha penurunan emisi gas rumah kaca. “Indonesia telah memiliki Rencana Aksi Nasional dan Rencana Aksi Daerah penurunan emisi gas Rumah Kaca. Untuk Jawa Timur targetnya pada tahun 2020 mampu menurunkan 6,2 juta ton karbondioksida. Sayangnya untuk Jember belum memiliki Rencana Aksi Daerah, oleh karena itu kami bekerjasama dengan dinas terkait bakal menyusun Rencana Rencana Aksi Daerah penurunan emisi gas Rumah Kaca untuk Jember,” kata Hari Sulistyowati.

Hari Sulistyowati lantas mencontohkan manfaat pohon. “Setiap pohon mampu menyerap karbondioksida sebanyak 28,2 kg per hari, dan memproduksi 20,4 kg oksigen. Jadi bisa dibayangkan jika penanaman 82 ribu bibit tadi berhasil, maka perkiraannya akan mampu menyerap 1100 ton karbondioksida per harinya. Karbondioksida inilah penyebab emisi gas Rumah Kaca yang menjadi salah satu penyebab pemanasan global,” ujar Hari Sulistyowati. Program Mitigasi Berbasis Lahan yang dilaksanakan oleh Universitas Jember, akan dilaksanakan selama 17 bulan. Selain dimotori para dosen dari berbagai lintas disiplin selaku peneliti, Program Mitigasi Berbasis Lahan yang dilaksanakan oleh Universitas Jember juga melibatkan 30 orang mahasiswa yang akan melakukan riset di berbagai aspek, serta lima mahasiswa yang mengikuti program magang di TNMB.

Tidak hanya berhenti pada program penanaman pohon ekonomi non kayu saja, tim Program Mitigasi Berbasis Lahan Universitas Jember juga merencanakan memberdayakan masyarakat sekitar TNMB, misalnya dengan membangun kluster ekonomi kreatif seperti peternakan lebah madu, kambing ettawa, serta semut rangrang sebagai pakan burung berkicau. Tim juga menyiapkan pelatihan budidaya dan pengelolaan jamur, tanaman obat, keripik dan sale pisang, serta kerajinan tangan. “Program pemberdayaan masyarakat sekitar TNMB ini disiapkan, agar masyarakat dapat turut menikmati manfaat hutan tanpa harus merusak,” pungkas Hari Sulistyowati. (iim)

1 Comment

  • cantik
    Reply

    Wow inovasi yang dilakukan Unej memang selalu top, kira-kira kapan jadwal paling dekat wacana ini akan direalisasikan?? Kami do’akan semoga kegiatan ini akan berjalan lancar demi kehidupan yang lebih baik.

Leave us a Comment