Hutan Rusak, Bencana Menjelang

Mitigasi_UNEJ-630x330px

Program Mitigasi Berbasis Lahan Universitas Jember (1)

Jember, 17 Maret 2017

Mitigasi2_UNEJ 

Universitas Jember mulai menjalankan Program Mitigasi Berbasis Lahan di resort Wonoasri, dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Program rehabilitasi yang akan dijalankan hingga bulan Juni 2018 ini bakal menjalankan enam sub program. Antara lain penanaman tanaman ekonomi non kayu, peningkatan kesuburan dan daya sangga tanah, penilaian ekologi kawasan rehabilitasi, pembuatan hutan kolong dan pekarangan, perumusan kerjasama baru antara TNMB dengan masyarakat, serta pemberdayaan masyarakat Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo sebagai daerah penyangga TNMB. Program Mitigasi Berbasis Lahan ini mendapatkan dukungan dana dari Indonesia Climate Change Trust Fund, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bappenas, USAID serta TNBM. Tim Humas Universitas Jember yang beranggotakan Iim Fahmi Ilman, Moh. Isriadi, Dian Wahyu, beserta Khalida Adilah, selama dua hari (15-16/3) berkesempatan melihat dari dekat kegiatan dan aktivitas Tim Program Mitigasi Berbasis Lahan yang dipimpin langsung oleh Wachju Subchan yang juga Wakil Rektor II Universitas Jember. Berikut pengalaman Tim Humas yang dituangkan dalam tulisan bersambung ;   

Hari I, 15 Maret 2016.

            Hari pertama kegiatan dimulai dengan sosialiasi Program Mitigasi Berbasis Lahan, ada dua sosialisasi yang diagendakan. Pertama sosialisasi kepada para tokoh masyarakat di Desa Wonoasri mulai dari tokoh agama, karang taruna, pengurus PKK, pengurus Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), pengurus Desa Peduli Buruh Migran (Desbumi) dan lainnya. Kedua, sosialisasi untuk para petani, khususnya petani yang bertani di lahan resort Wonoasri. Sosialisasi sesi pertama dipusatkan di balai desa Wonoasri. Sebelum kegiatan dimulai, Tim Humas berkesempatan berbincang dengan Sugeng Priyadi, Kepala Desa Wonoasri, di ruang kerjanya.

            “Jika desa-desa di seputaran TNBM diibaratkan sebuah mangkok, maka letak Desa Wonoasri ini ada di dasar mangkok. Sehingga jika musim hujan sering kebanjiran, sementara di musim kemarau air sulit didapat,” ujar Sugeng Priyadi membuka pembicaraan bersama kami. Siang itu, sang Kepala Desa didampingi Suharyono, Sekretaris Desa. Desa Wonoasri sendiri adalah desa hasil pemekaran, sebelumnya daerah Wonoasri masuk ke dalam Desa Sanenrejo. Semenjak 1 Oktober 1994, Wonoasri ditetapkan sebagai desa definitif. Kini Desa Wonoasri dihuni kurang lebih 11.300 jiwa dengan luas daerah 638 hektar. Penduduknya rata-rata hidup sebagai petani, bekerja di perkebunan milik PTPN, serta menjadi buruh migran. “Secara ekonomi, kebanyakan warga Desa Wonoasri berlatar belakang ekonomi menengah ke bawah,” tambah Sugeng lagi.

            Sugeng kemudian melanjutkan ceritanya. Saat gonjang ganjing politik pecah di tahun 1998, banyak warga di seputaran TNBM yang menjarah hutan. Akibatnya ribuan hektar lahan hutan jadi gundul. Kondisi ini ditambah dengan adanya lahan pertanian di dalam resort Wonoasri. Hutan rusak, bencana pun menjelang. “Jika hujan turun dengan intensitas sedang, maka seperempat desa kami tergenang banjir. Malah jika hujan turun dengan deras, separuh desa yang terkena banjir,” kata Sugeng. Sebaliknya, saat musim kemarau datang, air dalam tanah berkurang, sehingga para petani harus menggunakan mesin penyedot air untuk mengairi sawahnya. “Salah satu penyebab bencana banjir dan kekeringan ini adalah gundulnya hutan, tanpa pohon maka tidak ada lagi penahan dan penyimpan air,” tutur Sugeng. Oleh sebab itu dirinya menyambut baik Program Mitigasi Berbasis Lahan yang digagas oleh Universitas Jember.

            Dalam sesi pertama sosialisasi, Tim  Program Mitigasi Berbasis Lahan Universitas Jember menjelaskan latar belakang perlunya rehabilitasi lahan mendapatkan dukungan dari warga Desa Wonoasri. Penjelasan disampaikan secara bergantian oleh Hari Sulistyowati (FMIPA), Ni Luh Putu Suciati (Fakultas Pertanian) dan Budhy Santoso (FISIP). Materi sosialisasi lebih banyak menjelaskan program-program yang banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat, khususnya program pemberdayaan masyarakat. “Suksesnya Program Mitigasi Berbasis Lahan tentu bergantung kepada dukungan masyarakat Desa Wonoasri, sebab mereka lah aktor utamanya. Kami dari Universitas Jember menempatkan diri dalam posisi mediator dan fasilitator. Kami bertugas mendampingi masyarakat, serta memberikan dukungan dari sisi keilmuan dan teknologinya,” jelas Hari Sulistyowati. Hadir pula dalam sosialisasi ini Kepala Resort Wonoasri, Arief Yuwono dan Indah Sulistyowati, staf sekaligus penyuluh di Resort Wonoasri.

            Dalam sesi diskusi yang berlangsung hangat, Tim Program Mitigasi Berbasis Lahan Universitas Jember banyak mendapatkan masukan dari warga Wonoasri, khususnya terkait jenis pelatihan yang akan diberikan dalam rangka pemberdayaan masyarakat. “Kami telah mempersiapkan berbagai pelatihan, antara lain pelatihan ternak lebah madu, kambing ettawa, serta semut rangrang sebagai pakan burung berkicau. Tim juga menyiapkan pelatihan budidaya dan pengelolaan jamur, tanaman obat, keripik dan sale pisang, serta kerajinan tangan,” jelas Ni Luh Putu Suciati. “Tapi kami tentu saja terbuka akan usulan dari warga,” katanya lagi. Beberapa usulan pelatihan antara lain pelatihan pembuatan jamu, produk olahan jamur dan usulan lainnya.

            Secara khusus, warga Wonoasri meminta agar Program Mitigasi Berbasis Lahan yang dilaksanakan oleh Universitas Jember tidak lantas berhenti, walaupun periode penelitian telah usai bulan Juni 2018 nanti. Permohonan iini disampaikan oleh Farid, Ketua Bumdes Wonoasri. “Dari pengalaman yang lalu, seringkali ada pelatihan bagi warga dan petani, namun setelah selesai pelatihan putus hubungan begitu saja. Padahal kami masih menghadapi banyak problem, misalnya saja kami minim pengetahuan akan pemasaran produk. Oleh karena itu, kami mohon kepada Universitas Jember agar terus mendampingi kami,” pinta Farid. Usulan ketua Bumdes Wonoasri disanggupi oleh Hari Sulistyowati, “Kami bersedia untuk mendampingi warga Wonoasri, tentu saja asal masyarakat juga sungguh-sungguh menjalankan Program Mitigasi Berbasis Lahan,” katanya.

            Sementara itu sosialisasi sesi kedua digelar seusai Isya di rumah Pak Dasar, salah seorang warga Wonoasri. Sedikit berbeda dengan sesi sosialisasi pertama, para peserta yang hadir masyoritas adalah para petani yang menggarap lahan di resort Wonoasri, dan warga yang banyak memanfaatkan hutan resort Wonoasri. Kali ini Wachju Subchan sebagai ketua tim yang menyampaikan pemaparan akan tujuan Program Mitigasi Berbasis Lahan. “Program ini akan berupaya merehabilitasi hutan, sebab hutan yang lestari bakal memberikan banyak manfaat, tidak hanya bagi masyarakat Wonoasri tapi bagi seluruh dunia,” tuturnya.

Pemaparan ketua Tim Program Mitigasi Berbasis Lahan, dilanjutkan pengarahan dari Arif Yuwono, Kepala Resort Wonoasri. Menurutnya, masih adanya warga yang menggarap lahan di dalam resort Wonoasri secara bertahap akan dikurangi mengingat hutan harus dikembalikan pada fungsinya yang sejati sebagai lahan konservasi. Namun dirinya sadar upaya ini harus dilakukan bersama dengan semua pihak yang terkait. “Oleh karena itu TNMB setuju bekerjasama dengan Universitas Jember menggelar Program Mitigasi Berbasis Lahan. Kami harapkan masyarakat juga mendukung program ini,” ujar Arif.

            Tampaknya warga Desa Wonoasri antusis menyambut Program Mitigasi Berbasis Lahan yang dijalankan oleh Universitas Jember. Hal ini tercermin dari banyaknya saran dan usulan yang diajukan kepada Tim Mitigasi Berbasis Lahan. Salah satunya disampaikan oleh Murkadi, ketua kelompok peternak kambing ettawa Lembah Meru. Murkadi mengusulkan agar petani dilatih cara membuat pakan ternak fermentasi dan cara memanfaatkan kotoran ternak. “Kami berharap program ini dapat berjalan, dan peternak terus mendapatkan pendampingan,” kata Murkadi yang memiliki 23 anggota ini.

Usulan ini mendapatkan tanggapan positif dari para anggota tim, salah satunya dari Hari Sulistyowati. Menurut dosen Bioologi FMIPA ini, usulan pelatihan pembuatan pakan ternak fermentasi akan diagendakan. Pasalnya selama ini jika rumput sulit didapat di kala musim kemarau, maka peternak biasanya akan mengambil daun pohon-pohon yang ada di hutan. Akibatnya banyak pohon yang sulit berkembang atau bahkan mati. “Intinya, program-program yang dilaksanakan dalam Mitigasi Berbasis Lahan ingin merehabilitasi lahan dan memberdayakan masyarakat sekitar TNMB, agar masyarakat dapat turut menikmati manfaat hutan tanpa harus merusak,” pungkas Hari Sulistyowati. (iim)

Leave us a Comment