Program Mitigasi Berbasis Lahan Universitas Jember (3)

Mbah-Siman-630x330px

Jangan Pisahkan Kami Dengan Hutan Wonoasri Meru Betiri

Jember, 3 April 2017

Sejak awal bulan Maret ini para dosen Universitas Jember dari berbagai lintas disiplin memulai penelitian, sekaligus pengabdian kepada masyarakat di Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, Jember. Desa Wonoasri adalah desa penyangga Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), maka tidak heran jika sejak lama masyarakat sekitar memiliki keterikatan erat dengan hutan resort Wonoasri. Hutan yang telah banyak memberikan berkah penghidupan kepada warga. Permasalahan muncul saat terjadi eksploitasi berlebihan terhadap hutan resort Wonoasri, sehingga mengancam kelestarian hutan, bahkan mengundang bencana.

Untuk merehabilitasi hutan dan memberdayakan masyarakat sekitar hutan, maka Universitas Jember menggelar Program Mitigasi Berbasis Lahan dengan dukungan dari Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bappenas, USAID serta TNMB dijalankan. Harapannya ekosistem hutan resort Wonoasri kembali pulih, sekaligus melatih masyarakat sekitar agar mampu memanfaatkan potensi yang ada tanpa harus merusak hutan.  

Namun menjalankan sebuah perubahan, apalagi perubahan yang cukup mendasar tentu saja tidak mudah. Begitu pula dengan yang dirasakan oleh para peneliti Universitas Jember yang tergabung dalam Tim Mitigasi Berbasis Lahan. Berbagai program yang sudah disiapkan terkadang tidak bisa dijalankan di lapangan. Berikut pengamatan Tim Humas dan Protokol saat mendampingi Tim Mitigasi Berbasis Lahan bertemu dengan para tokoh masyarakat Desa Wonoasri yang dilakukan pada Rabu, 29 Maret 2017 lalu.

29 Maret 2017

Pagi itu acara kami di Desa Wonoasri diisi dengan berkunjung ke rumah para tokoh masyarakat. Salah satu jujugan kami adalah Mbah Siman Ali, sesepuh Desa Wonoasri. Agenda kegiatan ini dipandu oleh Ni Luh Putu Suciati, koordinator program peningkatan pengetahuan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) tim Mitigasi Berbasis Lahan Universitas Jember. Menurut Putu Suciati, dirinya bersama rekan-rekannya bertugas memberdayakan masyarakat Desa Wonoasri melalui berbagai pelatihan. Sebelum memberikan pelatihan, Putu Suciati melakukan observasi terkait potensi dan permasalahan yang ada di Desa Wonoasri. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan menggelar sosialisasi, diskusi dan berkunjung kepada tokoh-tokoh masyarakat Desa Wonoasri.

Kedatangan kami disambut dengan hangat oleh Mbah Siman Ali. Usianya memang sudah mencapai 93 tahun, tapi Mbah Siman Ali tampak sangat sehat untuk orang seusianya. Ketika saya tanya apa resepnya bisa tetap sehat, pria ramah ini menjawab resep sehatnya adalah terus beraktivitas, termasuk setiap hari berladang di kebunnya. Mbah Siman Ali pun lantas memulai ceritanya. “Masyarakat sekitar hutan resort Wonoasri tahu pentingnya hutan, ingin hutan tetap lestari sebab kami hidup dari hutan. Hutan resort Wonoasri khususnya, dan Meru Betiri pada umumnya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Desa Wonoasri,” ujarnya.

            Mbah Siman Ali lantas mengingat-ingat peristiwa di tahun 1998 lalu. Menurutnya di tahun itu tiba-tiba saja ada banyak orang dari luar desa yang menjarah hutan, bahkan termasuk diantaranya terdapat oknum aparat keamanan. “Dulu di hutan pinggiran sini banyak tumbuh kayu jati. Kayu jati itulah yang ditebangi. Kalau kami mana berani, paling-paling hanya memanfaatkan ranting yang jatuh. Kami sendiri heran, mengapa mereka bisa leluasa menebangi pohon,” tanya Mbah Siman. Melihat kejadian ini, akibatnya makin banyak orang yang turut menjarah hutan, termasuk beberapa warga desa Wonoasri sendiri.

            Sadar jika hutan dirusak maka bencana bakal menghadang, Mbah Siman Ali bersama enam rekannya lantas berinisiatif berusaha memperbaiki hutan Wonoasri dengan bantuan TNMB. Caranya dengan menanami kembali lahan yang gundul. Mbah Siman Ali dan rekan-rekannya juga mengkoordinir para petani agar turut aktif menjaga hutan. “Contohnya jika ada kebakaran hutan kami bergotong royong memadamkan api. Karena sumber air terbatas, maka pemadaman api dilakukan dengan memukul-mukul api yang menjalar,” tambahnya.

            Cikal bakal kelompok tani pelestari hutan yang dibentuk oleh Mbah Siman Ali dan kawan-kawan di akhir tahun 2008 lantas diwujudkan menjadi Lembaga Masyarakat Desa Hutan Konservasi (LMDHK) Wonomulyo. Penjelasan ini disampaikan oleh Dasar Wikanto, Sekertaris LMDHK yang juga ikut menemani kami. “Sampai saat ini, LMDHK Wonomulyo mengkoordinir 17 kelompok tani yang beranggotakan kurang lebih 600 orang petani,” jelas Dasar Wikanto. Selama ini selain turut aktif menjaga kelestarian hutan resort Wonoasri, LMDHK juga memberikan berbagai pelatihan kepada anggotanya semisal usaha jamur, tanaman obat dan pembuatan makanan ringan. Pelatihan-pelatihan tadi diberikan oleh berbagai pihak yang peduli terhadap kelestarian hutan resort Wonoasri. LMDHK juga menjadi lembaga yang menjembatani para petani dengan pihak TNMB.

            Sambil menikmati teh hangat, kami lanjut mendengarkan cerita Mbah Siman. Menurut pria yang turut membuka daerah Wonoasri ini, kelestarian hutan resort Wonoasri bisa dijaga asal para petugasnya tegas dalam bertindak namun tetap luwes. “Harusnya penegakan tidak pandang bulu, semua yang melanggar aturan harus dikenai sanksi. Sebaliknya pihak TNMB juga harus luwes dalam bermitra dengan para petani di sekitar hutan. Memang ada kawan-kawan yang merambah hutan, terutama saat musim paceklik. Namun jika petugas bersikap tegas, maka warga desa juga tidak berani macam-macam. Intinya jangan pisahkan kami dengan hutan resort Wonoasri Meru Betiri karena kami pun bertekad menjaga kelestariannya,” tutur Mbah Siman Ali.

Kelemahan di bidang sumber daya manusia, permodalan dan akses kepada pasar juga disampaikan oleh Dasar Wikanto. Menurutnya sebenarnya bukan kali ini saja petani di Desa Wonoasri mendapatkan bantuan, namun seringkali setelah program selesai, maka keberlanjutannya tidak ada. “Kami berharap dengan adanya program Mitigasi Berbasis lahan yang dimotori oleh Universitas Jember dapat meningkatkan pengetahuan petani serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kami mohon pembinaan yang dijalankan tetap berlanjut setelah program usai,” kata Dasar Wikanto.

Pembinaan di bidang sumber daya manusia, permodalan dan akses kepada pasar juga diutarakan oleh Farid Sahroni, Direktur Keuangan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Dana Asri Sejahtera Desa Wonoasri. Menurutnya Bumdes Dana Asri Sejahtera saat ini tengah berkonsentrasi menjalankan dua bidang usaha, yakni usaha simpan pinjam dan penjualan sarana produksi pertanian seperti bibit, pupuk dan lainnya. “Sampai saat ini kami telah menyalurkan dana sebesar 100 juta untuk usaha para warga Desa Wonoasri, seperti membuka toko dan pengembangan usaha pertanian,” kata Farid. Satu usaha yang tengah dijajagi adalah pengadaan sembako, bekerja sama dengan PT. Rajawali Nusantara Indonesia.

Pengurus Bumdes Dana Asri juga tengah memikirkan untuk menjadikan desanya sebagai desa wisata bekerjasama dengan TNMB. Hal ini mengingat banyak destinasi wisata di kawasan TNMB, termasuk wisata pantai Nanggelan. “Oleh karena itu kami butuh peningkatan sumber daya manusia, manajemen, permodalan dan dan akses kepada pasar. Kami harapkan program pemberdayaan dalam Mitigasi Berbasis Lahan yang dijalankan oleh Universitas Jember dapat membantu kami,” imbuh Farid.

Salah satu temuan Putu Suciati bersama rekan-rekan adalah fakta bahwa banyak warga Desa Wonoasri yang merantau, bahkan menjadi buruh migran. Karena merasa lapangan kerja di desa sangat minim, mereka merantau di negeri orang dengan harapan setelah mendapatkan modal akan dipakai membuka usaha di desa asalnya. Namun terkadang modal yang sudah dikumpulkan malah ludes akibat gagal berbisnis. Seperti yang disampaikan oleh Agustin Dwi Wijayanti, mantan buruh migran di Hongkong yang kini membuka usaha toko di Desa Wonoasri. “Biasanya setelah mendapatkan modal, kami pulang memperbaiki rumah, membeli sawah atau memulai usaha. Tetapi karena kurang pengetahuan, banyak usaha yang gagal sehingga kawan-kawan kembali menjadi buruh migran,” paparnya.

Oleh karena itu Agustin berharap ada pelatihan bagi para mantan buruh migran, seperti pelatihan ketrampilan menjahit, membuat makanan ringan yang dilengkapi pemberian pengetahuan manajemen dan akses kepada pasar. “Desa Wonoasri punya potensi hasil pertanian seperti pisang yang selama ini hanya dijual mentah. Kami ingin mengolah pisang  sehingga memiliki nilai tambah. Harapannya dengan usaha tadi, kami tidak perlu lagi menjadi buruh migran yang artinya meninggalkan anak dan keluarga,” urai Agustin yang menjadi buruh migran di Hog Kong selama empat tahun ini. Sayangnya belum banyak mantan buruh migran yang tertarik mengikuti ide Agustin. Dari sekitar 300 mantan buruh migran di desa Wonoasri, hanya sekitar 20-an orang yang tertarik untuk bergabung dalam kelompok.

Berdasarkan temuan-temuan di lapangan tadi, Putu Suciati dan kawan-kawan tengah mencoba mempersiapkan program-program pemberdayaan yang cocok dengan kondisi warga Desa Wonoasri. Namun menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana mengubah pola pikir masyarakat yang selama ini cenderung mengartikan setiap program yang dijalankan bakal berarti datangnya duit dalam jumlah besar, atau bantuan alat yang tinggal digunakan. “Saya mendapati ada kelompok usaha di sini yang sudah memperoleh mesin vacum untuk produk makanan ringan. Ternyata alat tadi tidak dipakai dengan alasan tertentu,” jelas dosen di Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian ini. Oleh karena itu dirinya dan rekan akan memetakan ulang potensi yang ada, lantas menetukan pelatihan apa yang paling cocok bagi warga.

Di lain sisi Putu Suciati melihat banyak potensi di Desa Wonoasri yang belum tergarap dengan baik. Misalnya saja dari data yang ada, rata-rata penduduk Desa Wonoasri memiliki pekarangan seluas seperdelapan hektar, yang sayangnya belum dimanfaatkan dengan maksimal. “Oleh karena itu kami menggagas program hutan lorong dan hutan pekarangan. Rencananya tanah-tanah kosong di pinggir jalan dan di pekarangan warga akan kita tanami dengan kayu gaharu dan tanaman obat seperti cabe jawa. Harapannya warga tidak lagi bergantung kepada hutan resort Wonoasri.”

Terkait dengan masalah para mantan buruh migran, Putu Suciati menengarai pendapatan yang besar saat menjadi buruh migran sepertinya membuat mantan buruh migran lebih tertarik kembali mengadu nasib di luar negeri, dibandingkan merintis usaha di kampung halaman. “Untuk itu memang perlu pendekatan yang lebih intensif kepada mereka, tidak hanya dari sisi ekonomi namun juga pendekatan sosial budaya. Semoga dengan durasi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang cukup panjang, Universitas Jember mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi Desa Wonoasri,” ujarnya. (iim)

Blog Attachment

Leave us a Comment