Dosen FTP Universitas Jember Raih Medali Emas Di Ajang World Invention Innovation Contest 2017

DosenFTP1

Jember, 12 Juni 2017

DosenFTP1

Asmak Afriliana STP., MP., dosen program studi Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Jember mencetak prestasi membanggakan. Membawa inovasi tentang fermentasi kopi, Asmak meraih medali emas dalam ajang World Invention Innovation Contest 2017 yang digelar tanggal 3-4 Juni 2017 lalu di  Chungmu Art Hall, Seoul, Korea Selatan. Tidak hanya pulang membawa medali emas, Asmak juga mendapatkan anugerah special award karena inovasinya dinilai memiliki potensi cerah untuk dikembangkan lebih lanjut di bidang agroindustri.

Ditemui di sela-sela kesibukan mengajarnya (12/6), Asmak menjelaskan inovasi yang dibikinnya hingga meraih medali emas di negeri gingseng. “Inovasi yang saya lakukan berawal dari riset mengenai bagaimana cara memfermentasi biji kopi agar kualitasnya meningkat. Dalam dunia kopi, jika skor biji kopi hasil fermentasi mencapai nilai 8 ke atas maka sudah termasuk speciality coffee yang harganya lebih mahal dari biji kopi biasa,” tutur dosen asal Situbondo ini. Ternyata fermentasi biji kopi yang dilakukan oleh Asmak mampu meningkatkan skor biji kopi dari 7 menjadi 8,25.

Proses awalnya, Asmak memilih biji kopi yang sudah kering, agak berbeda dengan kebiasaan petani kopi yang justru akan memilih biji kopi basah dengan anggapan kopi basah kualitasnya lebih baik. ”Selama ini kualitas biji kopi kering di pasaran umumnya jelek. Nah dari kualitas asal-asalan inilah saya ubah menjadi kopi berkualitas baik dengan proses fermentasi dengan teknologi yang sudah saya kembangkan,” jelasnya. Setelah memilah biji kopi kering, proses dilanjutkan dengan memfermentasi kopi selama kurang lebih delapan jam dengan alat stater yang diciptakannya.

Inovasi yang dilakukan oleh Asmak dalam usaha meningkatkan kualitas kopi ternyata mendapatkan pujian dari para juri World Invention Innovation Contest 2017, sehingga menganugerahkan medali emas dan special award. “Komentar dari juri sangat bagus, bahkan mereka telah membeli produk kopi saya,” tambahnya dengan nada senang karena produknya habis ludes di beli selama di Korea Selatan.

Selama berlaga di negeri K-Pop, Asmak bersaing dengan 19 koleganya yang merupakan peneliti dari Asia dan Eropa. Dosen yang semenjak mahasiswa fokus meneliti kopi ini juga masih memiliki dua penelitian lain tentang kopi yang tengah dikerjakannya. “Alhamdulillah, dari 900 proposal yang masuk ke Kemenristekdikti, ada dua proposal penelitian saya lolos,” kata Asmak yang tahun 2010 silam terpilih ke Jerman melalui ajang Bayern Young Enviromental Envoy.

Tidak hanya sibuk meneliti tentang kopi, ternyata sudah enam bulan ini Asmak telah menjual kopi produknya secara on line, bahkan produknya sudah beredar di seluruh pulau Jawa. Kopi bermerek “Luwak Excellent” ini di bandrol dengan harga tiga ratus ribu per kilogramnya, harga standar untuk kopi berkualitas speciality coffee. “Tapi dalam waktu dekat saya berencana untuk mengganti nama produk kopi saya, karena saya khawatir orang menyangka kopi produk saya adalah benar-benar biji kopi yang memang telah dimakan oleh luwak, walaupun kata konsumen kopi saya seenak kopi luwak betulan,” imbuh Asmak yang juga alumnus FTP Universitas Jember ini. (FTP-iim)

Blog Attachment