Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Buka The 2nd ICOLIB 2017

ICOLIB-1_UNEJ

Jember, 7 Agustus 2017

Prof. Intan Ahmad, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), membuka kegiatan The 2nd International Conference on Life Science and Biotechnology (ICOLIB) 2017 yang diadakan oleh Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember (7-8/8). Istimewanya, gelaran ICOLIB kedua ini dihadiri oleh Prof. Harald zur Hausen, peraih nobel tahun 2008 dalam bidang kedokteran. Selain dihadiri oleh Prof. Harald zur Hausen, tampil juga para pakar bioteknologi dari Jepang, Korea Selatan, Thailand, Filipina dan tuan rumah Indonesia.

 

Dalam sambutannya, Dirjen Belmawa mengapresiasi agenda rutin ICOLIB, apalagi berhasil mengundang peraih nobel, hal yang tidak mudah dilakukan oleh perguruan tinggi di Indonesia. Prof. Intan Ahmad meminta agar kesempatan emas bertemu dan berdiskusi dengan peraih Nobel ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh seluruh partisipan. “Saat ini adalah eranya bioteknologi, hal ini ditandai dengan pesatnya kajian di bidang terapi dengan sel punca, bahan bakar hayati dan lainnya. Oleh karena itu tepat kiranya menghadirkan Prof. Harald zur Hausen yang sudah dikenal luas khususnya di dunia kedokteran,” kata Prof. Intan Ahmad di hadapan para hadirin yang terdiri dari para akdemisi dan peneliti dari 15 perguruan tinggi di Indonesia.

ICOLIB-1_UNEJ

Guru besar Entomology ini juga menyinggung kondisi perguruan tinggi di nusantara saat ini, yang masih menghadapi berbagai problema seperti masih perlunya peningkatan kuantitas dan kualitas penelitian, paten serta kesenjangan mutu antar perguruan tinggi. “Kegiatan seperti ICOLIB diharapkan dapat menjadi wahana bagi para peneliti dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian untuk saling berdiskusi dan membuka kesempatan kerjasama, harapannya disparitas antar perguruan tinggi dapat teratasi,” jelasnya. Kemenristekdikti sendiri telah melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan publikasi ilmiah, hal ini tampak dari data terakhir dimana jumlah publikasi ilmiah Indonesia sudah setara dengan Thailand. “Tiga topik terbanyak publikasi ilmiah adalah keteknikan, pertanian dan bioteknologi,” imbuh Prof. Intan Ahmad.

Ditemui seusai acara pembukaan Moh. Hasan, Rektor Universitas Jember menegaskan tekad Kampus Tegalboto untuk terus menyelenggarakan berbagai kegiatan ilmiah seperti ICOLIB kali ini, termasuk menghadirkan para pakar kelas dunia, apalagi Universitas Jember terus berusaha mengembangkan bioteknologi khususnya di bidang pertanian, pangan dan kesehatan. Dukungan juga muncul dari, Hendrik Barkeling, Deputy Head of Mission Kedutaan Besar Jerman. Menurutnya pemerintah Jerman terus berkomitmen membantu pendidikan tinggi dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. “Jerman adalah salah satu tujuan utama bagi para dosen di Indonesia untuk melanjutkan studinya, khususnya melalui berbagai beasiswa yang dikoordinir oleh DAAD,” tuturnya.

Sementara itu dalam paparannya berjudul Infectious Agents in Bovine Red Meat and Milk and Their Potential Role in Cancer and Other Chronic Diseases, Prof. Harald zur Hausen menjelaskan adanya keterkaitan antara konsumsi daging merah dan susu, dengan peluang serangan penyakit kanker. Dari penelitian yang telah dilakukannya, banyak penderita kanker khususnya kanker usus besar (colon) berasal dari negara yang dikenal sejak lama konsumsi daging merahnya tinggi, seperti Argentina, Uruguay dan Selandia Baru. “Khusus di Asia, kenaikan penderita kanker usus besar terjadi di Jepang dan Korea Selatan, hal ini tidak lepas dari perubahan gaya hidup,” jelas pakar kanker yang mendapatkan hadiah Nobel kedokteran tahun 2008 setelah menemukan virus penyebab kanker mulut rahim ini.

ICOLIB-1_UNEJ

Paparan hasil riset guru besar asal Heidelberg University, Jerman ini memantik diskusi. Seperti pertanyaan yang diampaikan oleh Muslim Rasyid, peserta dari Universitas Andalas, Padang. “Salah satu masakan yang terkenal dari Padang adalah rendang yang berbahan daging, lantas apakah pembuatan rendang yang memakai banyak rempah mampu meminimalkan potensi kanker,” tanyanya. Menjawab pertanyaan ini, Prof. Harald zur Hausen menganjurkan ada penelitian lanjutan karena dirinya belum meneliti hal ini, menurutnya potensi kanker akibat mengkonsumsi daging merah lebih besar jika seseorang kerap mengkonsumsi daging merah yang tidak dimasak secara matang seperti shusi atau steak dalam jumlah banyak.

 Di sela-sela konferensi, Purwatiningsih, PhD, selaku ketua panitia kegiatan menjelaskan, ada 137 karya tulis ilmiah dan 40 poster ilmiah yang sudah diterima dan siap didiskusikan. “Kami menghadirkan para pakar ilmu alam dan bioteknologi dari berbagai negara, antara lain Prof. Chang-deok Han (Gyeongsang National University, Korea Selatan), Prof. Sirichai Kanlayanarat (King Mongkut’s University of Tecnology Thonburi, Thailand), Prof. Shin-Ichi Nakano (Kyoto University, Jepang), Prof. Inocencio E. Buot Jr. (University of The Philippines Los Banos, Filipina). Sementara dari tuan rumah Universitas Jember, tampil Prof. Bambang Sugiharto, pakar tebu transgenik,” ujarnya. (iim)

Blog Attachment