Melihat Persiapan Universitas Jember Menuju PIMNAS XXX

Poespa1

Dari Teliti Obat Kanker Hingga Ide Membangun Pusat Oleh-Oleh Hasil Laut

Jember, 10 Agustus 2017

Universitas Jember mengirimkan empat tim dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXX tahun 2017 yang akan dilaksanakan di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar tanggal 23-29 Agustus 2017 nanti. Empat tim tersebut terdiri dari dua tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Penelitian Eksakta, dan satu tim dari  PKM Sosial Humaniora dan Pengabdian Masyarakat. Keempatnya lolos dari kegiatan monitoring dan evaluasi (Monev) yang dilakukan oleh tim Ditjen Belmawa Kemenristekdikti yang dilaksanakan bulan Juli lalu. Kini para mahasiswa Universitas Jember yang bakal bertarung di Makassar tengah mempersiapkan diri agar mampu membawa pulang medali.

Menurut Zulfikar, Wakil Rektor I Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni, selain terus memperdalam materi yang terkait penelitian masing-masing, tiap kelompok juga dilatih bagaimana cara mempresentasikan penelitian di hadapan dewan juri. “Universitas Jember sudah membentuk tim pembina yang tidak hanya melatih kemampuan mahasiswa dari sisi ilmiah saja, namun juga memberikan bimbingan psikologis agar para mahasiswa memiliki kesiapan mental. Kami juga memberikan pelatihan bagaimana membuat materi presentasi dan memberikan presentasi yang baik, cara membuat poster ilmiah dan lainnya. Harapannya mereka bakal berprestasi,” tutur Zulfikar saat ditemui di ruang kerjanya (10/8). Untuk diketahui, tahun ini terdapat 35 usulan judul PKM dari kampus Tegalboto yang dajukan, namun hanya empat yang lolos.

Teliti Kenikir Sebagai Kandidat Obat Kanker

            Ternyata banyak ide-ide cemerlang mahasiswa Tegalboto yang lahir setelah melihat potensi daerah Jember dan sekitarnya. Hal ini terlihat dari empat PKM yang diajukan, dan berhasil menembus PIMNAS XXX 2017 di Makassar. Seperti yang dilakukan oleh Fiqih Ramadhan, Fikri Ainur Risma, Luluk Mukarromah, Ria Yulian dan Nurul Hilyatun. Lima mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FKIP ini meneliti tanaman kenikir sebagai kandidat obat kanker. Ide mereka berawal dari kebiasaan di masyarakat Jember dan sekitarnya yang mengkonsumsi kenikir sebagai masakan, terutama untuk lalapan.

            “Masyarakat percaya bahwa mengkonsumsi kenikir berkhasiat untuk tubuh. Ternyata setelah kami teliti, kenikir memiliki bakteri endofit yang berfungsi sebagai alat pertahanan bagi tanaman kenikir. Bakteri endofit inilah yang coba kami ekstrasikan sebagai kandidat obat kanker,” ujar Fiqih memulai kisahnya. Sebenarnya bakteri endofit ada di beberapa tanaman, seperti benalu mangga, mangrove, dan tanaman akar kuning. “Kami memilih kenikir karena mudah dibududayaka dan masa tanamnya tidak lama. Bandingkan dengan benalu mangga yang butuh bertahun-tahun untuk tumbuh besar, mangrove juga harus dicari di daerah pesisir, sementara tanaman akar kuning hanya ada di Taman Nasional Meru Betiri,” imbuh Fiqih lagi.

            Dalam penelitiannya, Fiqih dan kawan-kawan membuktikan bahwa ekstrasi kenikir yang mereka buat layak menjadi kandidiat obat kanker. “Dalam prosedur penelitian mengenai obat kanker, kandidat obat kanker wajib diuji cobakan dahulu ke larva artemia yang biasa dijadikan sebagai pakan ikan. Dari uji coba kami, pemberian ekstrak kenikir dengan ukuran tertentu mampu membunuh larva artemia, sehingga bisa dilanjutkan ke uji coba yang lebih tinggi lagi,” kali ini kata Fikri. Tidak hanya sebatas maju ke PIMNAS, hasil penelitian yang mereka lakukan diapresiasi banyak kalangan, terbukti dengan masuknya penelitian mereka di International Journal of Advanced Engineering Research and Science.

Poespa1

Angkat Batu Piring Sebagai Komoditas Ekspor

            Keberangkatan empat mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ke Makassar menjadi sejarah. “Kami adalah wakil FEB pertama yang menembus ajang PIMNAS, sebelumnya selalu gagal menembus babak Monev, semoga kami berhasil menggondol medali,” harap Rudi Hartono yang bersama Siti Nurainul Jannah, Desi Fatmawati, dan Mitha Istya Mulya Dewi menggarap PKM berjudul Analisis Pengendalian Kualitas Produk Batu Piring Dalam Menunjang Kualitas Berstandar Ekspor Industri Pengrajin Batu Piring Handycraft. Ide mengangkat batu piring berangkat dari fakta bahwa Jember memiliki  produk unggulan batu piring, namun belum tergarap dengan maksimal.

            Dari hasil observasi yang mereka lakukan, ternyata ada ketimpangan harga antara batu piring untuk pasar ekspor dan non-ekspor, akibat perbedaan mutu. Fakta tersebut yang mendorong mereka untuk mencari cara dalam mengatur strategi pengendalian kualitas diantara para pengrajin batu piring di Jember. “Kebanyakan pengrajin batu piring masih menjalankan usahanya secara tradisional, oleh karena itu kami berusaha menyumbangkan ide berupa sistem produksi untuk meningkatkan kualitas produk batu piring yang dihasilkan,” tambah Rudi Hartono yang didapuk sebagai ketua ini.

            Rudi dan kawan-kawan membuat sistem produksi yang di dalamnya meliputi pelatihan bagi tenaga kerja, pengawasan dan evaluasi, pembuatan standar prosedur operasi, perawatan peralatan, sistem pemilihan bahan baku serta manajemen usaha. “Tujuan sistem ini agar setiap produksi batu piring memiliki kualitas yang sama, kalau pun berbeda tidak jauh kualitasnya sehingga pendapatan yang diperoleh pengusaha batu piring makin meningkat,” kata Desi yang hari itu menemani sang ketua.

Poespa1

Dari Limbah jadi Uang

            Serbuk kayu yang selama ini lebih banyak menjadi limbah, ternyata memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Pasalnya kandungan selulosa yang terdapat dalam serbuk kayu merupakan polimer yang yang bisa dijadikan media tempat berkembangnya bakteri yeast atau yang lazim disebut dengan ragi. “Namun bakteri yeast tersebut bukan untuk pembuatan roti lho, ini bakteri yeast yang digunakan untuk membantu proses fermentasi dalam pembuatan bioetanol,” ujar Nanda Ain An Nisa mahasiswi FMIPA Universitas Jember. Menurut Nanda, dalam pembuatan bioetanol biasanya bakteri yeast dibentuk sebagai mediabeads.

Hebatnya, Nisa bersama empat orang rekannya Nurul Zuhro’ul Vikriya, Agus Wedi, Farida Utami, dan Nindi Listia berhasil menemukan formula pembuatan mediabeads berbentuk pilus atau bola-bola kecil. “Formula atau komposisi mediabeads yang kami buat ini telah kami daftarkan untuk mendapatkan hak paten dan naskahnya telah kami persentasikan dalam International Conference on Life Science and Biotechnology (ICOLIB) dan seminar nasional di Universitas Padjajaran,” imbuh Nisa.

Nisa lantas menjelaskan keunggulan mediabeds ciptaan para mahasiswa FMIPA ini. “Mediabeds berbentuk pilus berbahan baku serbuk kayu buatan kami mampu menekan biaya produksi dalam produksi bioetanol. Pasalnya, selama ini dalam memproduksi bioetanol biasanya menggunakan alginat sebagai mediabeds yang harganya masih mahal. Harga alginat berkisar 1 juta rupiah per kilogram. Sementara dengan mediabeds berbahan serbuk kayu harganya murah mengingat serbuk kayu sangat berlimpah,” kata Nisa.

Selain murah harganya, ternyata mediabeds ciptaan Nisa dan kawan-kawan bisa dipakai empat sampai lima kali, berbeda dengan mediabeds berbahan alginat yang sekali pakai. “Mediabeds buatan kami bisa digunakan hingga 4-5 kali dalam proses fermentasi untuk produksi bioetanol, jika menggunakan proses konvensional hanya bisa digunakan dalam satu kali proses produksi saja,” pungkasnya.

Poespa, Pusat Produksi Oleh-Oleh Khas Payangan

            Dari keempat PKM hasil ide mahasiswa Kampus Tegalboto yang maju ke PIMNAS XXX di Makassar, penelitian yang digarap oleh  Rizky Akbarul Kurnia, Mas Amaliah, Fatimatuzzahro, Aisyah Wulansari, dan Viona Reza berbeda dengan para koleganya. Kelima mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) ini memilih turun di PKM Pengabdian Masyarakat. Kali ini potensi Pantai Payangan, Desa Sumber Rejo, Kecamatan Ambulu, Jember.

            “Awalnya dari main-main ke Pantai Payangan yang menjadi salah satu destinasi wisata baru di Jember. Kok kayaknya kurang lengkap berwisata ke suatu tempat tapi gak bawa oleh-oleh. Lantas kami mulai berpikir produk apa yang cocok sebagai oleh-oleh khas Payangan, akhirnya mucul ide membuat  POESPA atau Pusat Produksi Oleh-Oleh Khas Payangan,” jelas Rizky sang ketua kelompok. Rizky dan kawan-kawan lantas menggandeng para istri nelayan setempat yang tergabung dalam kelompok Putri Laut untuk memproduksi oleh-oleh khas Payangan. Rizky dan kawan-kawan juga membantu pemasaran produk POESPA melalui media sosial.

            “Saat ini kelompok binaan kami telah memiliki beberapa produk unggulan yang bahan bakunya berasal dari hasil tangkapan nelayan. Ada Terasi Cinta Payangan, Abon Cinta Payangan, Udang Goreng Cinta Payangan, dan Petis Cinta Payangan. Sengaja semua produk oleh-oleh kami beri merk Cinta Payangan agar pembeli selalu ingat akan Pantai Payangan,” imbuh Fatimah. Fatimah menuturkan, terasi buatan POESPA ini berbeda dengan terasi yang dijual pasaran, karena terasi ini tidak berbau menyengat dan lebih tahan lama. “Terasi ini kami oleh sedemikian rupa sehingga menjadi terasi yang siap olah tanpa harus menggoreng atau merebus lagi. Terasi ini juga lebih tahan lama karena berbentuk kering, walaupun bau khas terasi berkurang, rasa khas terasinya tetap terasa, malah makin nikmat,” lanjut Fatimah.

Poespa1

Keberadaan POESPA memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar, terutama dalam usaha meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar. “Bayangkan saja saat ini dengan modal awal sebesar 500 ribu rupiah, keuntungan yang didapatkan para pembuat oleh-oleh  mencapai dua kali lipat. Permintaannya pun cukup tinggi, termasuk peminat yang ingin membeli melalui Online. Namun kami belum bisa melayani pembelian Online, sebab untuk memenuhi permintaan wisatawan yang datang saja kami sudah kewalahan,” kata Rizky. (iim/mun/lid)

Blog Attachment