Program Hibah Bina Desa (PHBD) Himaseta Fakultas Pertanian Universitas Jember

Dari Desa Perambah Hutan Menuju Desa Penyangga Hutan

Jember, 25 November 2016

Masyarakat di Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember akrab dengan hutan, maklum sebagian wilayah desa mereka terletak di dalam Taman Nasional (TN) Meru Betiri. Hutan sejak lama menjadi bagian kehidupan warga desa yang letaknya kurang lebih 60 kilometer dari pusat kota Jember. Sayangnya, hubungan antara masyarakat desa dengan hutan yang dijaga oleh TN Meru Betiri tidaklah selalu harmonis. Di saat krisis moneter disertai perubahan politik menerjang Indonesia, warga desa yang terdesak kebutuhan ekonomi kemudian merambah hutan. Ribuan kubik kayu ditebang untuk memenuhi hajat hidup, namun akibatnya ekosistem terganggu, bencana pun datang. Tidak ingin mengulang kesalahan di masa lalu, kini warga Desa Andongrejo bertekad menjadi desa penyangga hutan, bekerjasama dengan TN Meru Betiri, serta bimbingan mahasiswa dan dosen yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (Himaseta) Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jember.

“Saat krisis moneter, banyak warga yang merambah hutan, menebang pohon untuk dijual. Saking banyaknya barang bukti kayu yang ditebang, sampai-sampai truk milik polisi tidak mampu membawanya,” ujar Slamet Luki memulai kisahnya saat ditemui di rumahnya (22/11). Akibatnya, hutan di wilayah TN Meru Betiri yang terletak di tiga desa, Andongrejo, Sanenrejo, dan Wonoasri, berubah gundul. Dan begitu hujan deras turun, maka banjir menerjang. “Dulu sungai di belakang rumah saya hanya selebar tujuh meter, setelah kejadian perambahan hutan, kini lebarnya hampir 20 meter karena terus tergerus aliran sungai yang makin deras akibat tak ada lagi pohon di bagian hulu,” tambah laki-laki asli Desa Andongrejo ini.

Rusaknya hutan merugikan semua pihak, hutan yang gundul hanya tersisa semak-semak belukar. Tidak ada lagi buah kemiri, kedawung atau petai yang dulu bisa dipanen oleh penduduk desa. Sadar akan bahaya yang  lebih besar lagi, pihak TN Meru Betiri dan masyarakat sekitar hutan berusaha memperbaiki kondisi ini. “Pihak TN Meru Betiri mengambil kebijakan bekerjasama dengan masyarakat desa sekitar hutan. Bentuknya, kami memberikan bibit tanaman endemik hutan di Meru Betiri seperti kedawung, kemiri, keluwak dan lainnya, untuk ditanam oleh masyarakat. Nanti saat panen, hasilnya boleh dimanfaatkan oleh masyarakat desa, namun dengan syarat  pohonnya tidak boleh ditebang,” jelas Fajar, penyuluh dari TN Meru Betiri yang ikut diskusi siang itu.

Kolaborasi antara warga sekitar hutan, seperti di Desa Andongrejo dan TN Meru Betiri ternyata menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hutan yang dulu gundul kini mulai bersemi kembali. “Untuk melihat perkembangan program ini, kami meminta bantuan kawan-kawan dari Fakultas Pertanian Universitas Jember untuk melakukan kajian,” kata Fajar. Pernyataan penyuluh yang sudah setahun bertugas di Desa Andongrejo ini diiyakan oleh Ni Luh Putu Suciati, dosen Program Studi Agribisnis yang juga pembina Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (Himaseta). “Mulai tahun 2015 kami bekerja sama dengan TN Meru Betiri untuk mengkaji perkembangan program rehabilitasi hutan. Dari kajian kami, ternyata program kemitraan antara TN Meru Betiri dengan masyarakat sekitar hutan berjalan dengan baik, bahkan kami melihat masih ada kesempatan untuk memberdayakan masyarakat dari kerjasama ini,” tutur dosen asal Bali ini.

Bak gayung bersambut, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Ristekdikti memiliki Program Hibah Bina Desa (PHBD) sejak tahun 2011. Program ini memberikan dana hibah bagi proposal yang diajukan oleh mahasiswa, dengan penekanan pada sisi pengabdian kepada masyarakat. “Kami akhirnya mendorong mahasiswa agar ikut dalam kompetisi PHBD, ada empat proposal dari Fakultas Pertanian yang dikirimkan ke Jakarta pada awal tahun 2016 ini. Akhirnya setelah melalui proses seleksi, hanya proposal PHBD di Desa Andongrejo yang lolos,” tambah dosen yang akrab dipanggil Ni Luh ini. Judul proposal yang lolos adalah “Bina Kelompok Tani Desa Andangrejo Sebagai Desa Penyangga Taman Nasional Meru Betiri Melalui Pengembangan Tanaman Obat Di lahan Kritis”.

Semenjak bulan Juni 2016 lalu, lima mahasiswa mahasiswa Program Studi Agribisnis yang terdiri dari Fakhrudin, Syamsul Arifin, Kuni Niswatus Sholehah, Desak Gde Karlina dan Prawitasari rutin mengunjungi para petani yang tergabung dalam kelompok tani Jaya Mekar yang dipimpin oleh Slamet Luki. Kelima mahasiswa ini memberikan cara bercocok tanam tanaman obat berupa jahe kepada 52 petani anggota Jaya mekar. “Kami memberikan pelatihan mulai pembibitan, penanaman, pasca panen dan pengolahan jahe untuk permen herbal,” kata Fakhrudin yang ditunjuk sebagai ketua kelompok.

Fakhrudin dan kawan-kawan memilih penanaman dan pengolahan jahe untuk menambah pendapatan petani di Desa Andongrejo bukan tanpa alasan. “Tanaman jahe dipilih karena mampu hidup di sela-sela pepohonan di dalam hutan yang rindang, yang tajuknya menghalangi sinar matahari sampai ke tanah. Jika memilih tanaman palawija, maka pertumbuhannya tidak maksimal karena minim menerima sinar matahari,” ujar Fakhrudin lagi. Pendapat Fakhrudin didukung oleh Slamet Luki. “Kalau menanam palawija bisa habis dimakan monyet dan babi hutan, sementara tanaman obat seperti jahe tidak disukai oleh hewan liar,” katanya.

Hasil panen jahe kemudian diolah oleh para Ibu-Ibu di Desa Andongrejo menjadi permen herbal yang lantas dilabeli Ginger Sweet. Untuk itu para mahasiswa Kampus Tegalboto juga membantu peralatan seperti timbangan dan blender, serta pengemasan. “Daripada mereka menganggur, lebih baik dimanfaatkan untuk mengolah jahe menjadi permen jahe,”  imbuh Slamet lagi. Untuk saat ini ada enam anggota kelompok Jaya Mekar yang menanam 200 kilogram bibit jahe di lahan seluas setengah hektar di dalam hutan TN Meru Betiri. “Kami menerima hibah sebesar 24 juta rupiah yang dirupakan dalam bentuk bibit jahe, pupuk dan peralatan pengolah jahe,” kali ini Karlina, salah seorang mahasiswa menjelaskan.

Untuk melaksanakan PHBD di Desa Andongrejo, kelima mahasiswa Program Studi Agrobisnis ini rela meluangkan waktu minimal sebulan sekali mengunjungi para petani Jaya Mekar. Halangan jarak, waktu, dan kondisi jalan yang buruk tidak menjadi halangan. “Biasanya butuh waktu dua hingga tiga jam dari Kampus Tegalboto menuju Desa Andongrejo, perjalanan makin berat jika musim hujan seperti ini,” kata Fakhrudin. Kondisi hujan juga lah yang membuat tim reviewer PHBD tidak bisa mengunjungi lahan jahe yang digarap oleh Slamet Luki dan kawan-kawan. “Dalam kondisi normal butuh waktu setengah jam untuk bisa sampai ke lahan jahe yang kami garap, lahannya di dalam hutan dengan jalan yang menanjak. Semalam hujan deras, jadi pasti licin sekali,” cetus Slamet Luki lagi.

Program PHBD yang diajukan oleh Himaseta Fakultas Pertanian Universitas Jember, adalah satu dari 120 proposal yang dinyatakan layak untuk mendapatkan hibah dari Ditjen Belmawa Kementerian Ristekdikti. Tahun ini, Ditjen Belmawa menerima 2600 proposal yang berasal dari PTN dan PTS se-Indonesia. “Proposal yang didanai adalah proposal yang mampu membawa penemuan, inovasi, ide, iptek dari lingkungan perguruan tinggi ke tengah masyarakat, yang mampu membuat perubahan nyata di masyarakat. Sisi keberlanjutan adalah poin penting dari program yang diajukan,” jelas Yannefri Bahtiar, reviewer PHBD dari Institut Pertanian Bogor yang hari itu bersama rekannya, Aris Suhadi dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, turut melihat dari dekat program di Desa Andongrejo.

Aris Suhadi, salah seorang reviewer memuji pelaksanaan PHBD yang dijalankan oleh mahasiswa dan dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember. Menurutnya salah satu keunggulan dari PHBD di Desa Andongrejo adalah mampu menyatukan semua elemen untuk bersatu melestarikan hutan, sekaligus menambah pendapatan masyarakat desa. “Saya melihat para petani yang tergabung dalam kelompok Jaya Mekar, TN Meru Betiri dan Universitas Jember berhasil bersinergi. Saya harap tahun depan ada proposal yang meneruskan program ini, kalau perlu melibatkan mahasiswa lintas disiplin agar lebih memberikan manfaat,” kata dosen Fakultas Hukum Untirta ini.

Aris Suhadi juga mengharapkan agar produk Sweet Ginger diperbaiki dari soal rasa dan kemasan. Termasuk melibatkan lebih banyak elemen masyarakat di Desa Andongrejo. “Saya usul agar para pemuda dilibatkan untuk memasarkan produk Sweet Ginger, kalau perlu mereka diajarkan bagaimana memasarkan secara online, agar produknya bisa dikenal luas,” tambah Aris lagi.

Harapan dan masukan dari tim reviewer menjadi bahan perbaikan bagi Himaseta dan Fakultas Pertanian, dalam menjalankan PHBD di Desa Andongrejo, seperti yang disampaikan oleh Ni Luh Putu Suciani. “Kami akan memperbaiki kemasan produk Sweet Ginger, termasuk mencari resep yang pas agar produk kami bisa diterima oleh publik,” katanya. Bahkan Program Studi Agrobisnis berniat menjadikan Desa Andongrejo sebagai desa binaan, sehingga keberlanjutan PHBD dapat berkembang. “Kami juga terbuka menerima kerjasama dengan kawan-kawan di fakultas yang terkait, karena masyarakat Desa Andongrejo membutuhkan bantuan kita,” pungkasnya. (iim)

Leave us a Comment