Program Mitigasi Berbasis Lahan Universitas Jember (4)

MonevICCTF-2_UNEJ

Kambing dan Sapi, Musuh Taman Nasional Meru Betiri

Jember, 13 Oktober 2017

Mungkin pembaca akan bertanya-tanya dengan judul di atas, benarkah kambing dan sapi adalah musuh Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) ? Judul tersebut berasal dari data dan fakta yang didapat, saat tim Humas Universitas Jember mengikuti kunjungan tim supervisi dari Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) yang dipimpin oleh Sudaryanto, bersama 3 anggotanya ke Desa Wonoasri dan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), lokasi Program Mitigasi Berbasis Lahan yang tengah dilaksanakan oleh Universitas Jember (4/10). Selama empat hari tim supervisi dari ICCTF melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap program yang dilaksanakan oleh para peneliti kampus Tegalboto. Seperti yang telah diketahui, semenjak Maret 2017 lalu Universitas Jember mendapatkan kepercayaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bappenas, ICCTF, USAID serta Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) untuk merehabilitasi 255 hektar lahan di areal TNMB. Berikut laporan mengenai perkembangan program bertajuk “Pengelolaan Kawasan Rehabilitasi Taman Nasional Meru Betiri Melalui Pengembangan Desain Demonstrasi Plot Dengan Prioritas Jenis Tanaman Yang memiliki Fungsi Penutupan Lahan Sepanjang Tahun”, beserta dinamika yang menyertainya.

MonevICCTF-2_UNEJ

            “Saya akui, kami di TNMB terkadang harus bersikap tegas kala mendapati petani penggarap lahan di dalam TNMB yang melakukan tindakan yang berpotensi merusak TNMB. Contohnya mengambil daun-daun pohon untuk dijadikan pakan ternak, khususnya di musim kemarau. Jadi bisa dibilang musuh TNMB itu kambing dan sapi. Jadi mohon maaf jika kami harus tegas, namun tetap terukur dengan pendekatan yang manusiawi,” jelas Agus Setyabudi, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Ambulu. Pernyataan Agus Setyabudi ini disambut tawa para petani yang hadir memenuhi balai Desa Wonoasri (4/10). Sebelumnya, Sulung, salah seorang  para petani mengeluh di hadapan Sugeng Priyadi, Kepala Desa Wonoasri, yang didampingi Sudaryanto, Project Team Leader ICCTF serta para peneliti Universitas Jember. Menurutnya terkadang para petugas TNMB bertindak terlalu keras kepada para petani penggarap lahan di dalam TNMB.

            Pemaparan Agus Setyabudi ada alasannya. Saat tim ICCTF mengunjungi lahan Bonangan IV, salah satu lokasi rehabilitasi, tampak kebakaran melanda di beberapa petak lahan. “Pasti ada petani yang tengah membuka lahan untuk ditanami dengan cara membakar semak. Kalau sudah begini, maka tanaman yang sudah besar pun ikut terganggu, bahkan ada yang sampai mati terkena api,” keluh Agus Setyabudi yang sore itu didampingi oleh kawan-kawannya. Permasalahan klasik, bagaimana menyelaraskan antara pelestarian hutan dengan tuntutan memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat penyangga TNMB. Sejatinya TNMB tidak boleh ditanami tanaman seperti jagung atau padi, namun ketiadaan lahan membuat masyarakat membuka lahan untuk ditanami.

MonevICCTF-2_UNEJ

Permasalahan yang hampir serupa disampaikan oleh Hari Sulistyowati, salah seorang peneliti dari Program Studi Biologi, FMIPA Universitas Jember. Dalam program yang dijalankannya bersama kawan-kawan ini, Universitas Jember telah memberikan bibit tanaman gaharu kepada petani untuk ditanam di pekarangan sebagai hutan lorong. Harapannya jika sudah besar dapat diolah sebagai komoditas yang memberikan pemasukan kepada petani. “Namun ternyata banyak bibit yang mati, karena umumnya petani salah dalam menanam dan memberikan pupuk. Padahal sudah kita berikan cara bagaimana menanam gaharu yang baik dan benar. Memang harus sabar memberikan pemahaman kepada petani,” tutur Hari Sulisyto.

Sementara itu Sudaryanto dari ICCTF mengakui, jika menjalankan program seperti ini tidak hanya cukup dengan memberikan bantuan berupa materi dan teknis belaka, tapi juga mendorong petani untuk mengubah cara pikir dan kebiasaan yang sudah lama diikuti. “Untuk itu kami mendorong agar para petani lah yang menjadi subyek utama dalam program ini. Jangan sampai setelah program ini berakhir di bulan Juni 2018 nanti, maka usai sudah kerjasama kita. Para petani harus yakin jika program ICCTF ini untuk mereka dan anak cucunya, jika TNMB lestari maka paru-paru dan reservoir air bagi Jember akan terjaga, mereka juga yang untung. Intinya bagaimana agar TNMB lestari, dan warga sekitar mendapatkan manfaatnya. Untuk itu kami mendukung Universitas Jember terus mendampingi petani Desa Wonoasri. Semoga dua tahun lagi kami ke sini, kondisinya sudah makin baik,” ujarnya.

Sebagai alternatif solusi, Sudaryanto lantas menyarankan agar pemerintah dalam hal ini Desa Wonoasri dan TNMB, warga, beserta Universitas Jember mengembangkan konsep desa wisata. “Saya melihat Desa Wonoasri memiliki destinasi wisata yang belum tergarap dengan maksimal, misalnya pantai Bandealit dan Nanggelan yang masih belum banyak tersentuh, serta tentu saja TNMB yang potensial sebagai lokasi wisata edukasi,” ungkap pria asli Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta ini. Tawaran Sudaryanto diamini oleh Sugeng Priyadi, sang kepala desa, dirinya sudah membuktikan bagaimana daerah Wonosari, Gunung Kidul, yang dulu dikenal sebagai daerah minus kini masyarakatnya sukses mengusahakan berbagai destinasi wisata. “Semoga Desa Wonoasri bisa mencontoh keberhasilan Wonosari dalam mengembangkan wisata,” katanya.

MonevICCTF-2_UNEJ

Selepas berdiskusi di balai desa, kunjungan diteruskan dengan mengunjungi lokasi rehabilitasi di Bonangan IV. Sudaryanto menyempatkan diri berbincang-bincang dengan para petani penggarap lahan di dalam TNMB. Tampak beberapa pohon yang sudah dirambati tanaman cabe jawa yang dimaksudkan sebagai sumber penghasilan petani. Hari Sulistyowati menjelaskan rencana rehabilitasi di lokasi Bonangan IV. “Nantinya kami minta para petani penggarap untuk menanami setiap satu hektar lahan dengan 400 bibit tanaman endemik TNMB seperti durian, pakem, langsep, kemiri dan lainnya. Kami harap para petani akan menjaga tanaman tadi sehingga bisa menutup lahan rehabilitasi, sehingga TNMB kembali rimbun. Sebagai kompensasinya kami memberikan bibit cabe jawa yang diharapkan hasil panennya kelak bisa dinikmati petani,” kata pakar valuasi ekonomi lahan ini.

Tidak hanya berdiskusi mengenai permasalahan yang ada, Sudaryanto juga menggali potensi di TNMB dan Desa Wonoasri. Salah satu temuan adalah kesempatan untuk menghubungkan antara petani dan peternak yang ada. “Ternyata ada peternak kambing dan sapi di sini, nah limbah air kencingnya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk urine untuk bibit tanaman dan cabe jawa yang ditanam. Kebetulan ICCTF pernah memberikan bantuan bagi para petani di lereng gunung Merapi di Magelang yang lahannya terkena abu letusan gunung Merapi. Ternyata setelah diberi pupuk urine hasil panen cabenya justru melimpah. Untuk itu saya minta tim Universitas Jember mengubah alokasi dana untuk pembuatan instalasi pengolah limbah kencing untuk para peternak di sini,” urai Sudaryanto.

Sesuai target, program mitigasi bencana berbasis lahan yang digarap oleh Universitas Jember nantinya bakal menanami kembali lahan seluas 225 hektar dengan total 91.824 bibit tanaman. “Jumlah bibit tanaman tersebut sudah termasuk dua ribu bibit tanaman cabe jawa dan merica yang akan ditanam oleh para petani penggarap lahan TNMB. Sebagian besar bibit tanaman tersebut kita kembangkan di Universitas Jember. Tujuan akhirnya adalah petani mendapatkan penghasilan tanpa merambah TNMB lagi,” tuturnya.

Selain program penanaman kembali, tim Universitas Jember juga melaksanakan program pemberdayaan masyarakat Desa Wonoasri, berupa pemberian berbagai pelatihan, termasuk bagi para mantan buruh migran. Beberapa hasilnya ditampilkan pada siang itu, yakni jamu jahe kencur, kunir asem, serta sirup rempah. “Bahan-bahannya diperoleh dari pekarangan, termasuk cabe jawa. Kami juga menyiapkan pelatihan-pelatihan yang sesuai dengan kondisi masyarakat di sini. Beberapa pelatihan yang sudah diagendakan antara lain pelatihan ternak semut angkrang dan usaha jamur tiram. Kami juga sudah menjalin kontak dengan pengusaha jamu yang bersedia menerima hasil panen cabe jawa para petani kelak. Semoga pelatihan yang diberikan akan mampu menjadi bekal berwirausaha sehingga meningkatkan taraf ekonomi masyarakat,” terang Luh Putu Suciati yang mengkoordinir bidang pemberdayaan masyarakat. (iim)

Blog Attachment